DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

INFLAMMATORY BOWEL DISEASE PADA DEWASA DAN LANSIA. Apakah Crohn Disease dan Ulcerative Colitis Dapat Disembuhkan?

INFLAMMATORY BOWEL DISEASE PADA DEWASA DAN LANSIA. Apakah Crohn Disease dan Ulcerative Colitis Dapat Disembuhkan?

Sandiaz Yudhasmara

Inflammatory bowel disease (IBD) merupakan kelompok penyakit inflamasi kronis saluran cerna yang terutama terdiri atas Crohn disease (CD) dan ulcerative colitis (UC). IBD dapat muncul pada usia dewasa maupun usia lanjut dan mempunyai perjalanan penyakit yang sangat bervariasi. Sampai saat ini belum tersedia terapi medis yang dapat menghilangkan predisposisi dasar Crohn disease secara permanen. Pada ulcerative colitis, kolektomi dapat menghilangkan penyakit pada kolon, tetapi merupakan tindakan besar dengan konsekuensi jangka panjang. Tujuan terapi modern adalah mencapai dan mempertahankan remisi bebas steroid, mengendalikan inflamasi, mencapai perbaikan endoskopik, mencegah kerusakan usus, mengurangi kebutuhan rawat inap dan operasi, serta mempertahankan kualitas hidup. Pada pasien lansia, terapi menjadi lebih kompleks karena meningkatnya multimorbiditas, polifarmasi, frailty, perubahan fungsi ginjal dan hati, serta risiko infeksi dan keganasan. Oleh karena itu, usia tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk menolak terapi imunosupresif. Keputusan harus mempertimbangkan aktivitas IBD, komorbiditas, status fungsional, risiko infeksi, risiko kanker, nutrisi, harapan hidup, serta preferensi pasien.

Inflammatory bowel disease merupakan penyakit inflamasi kronis yang terutama mengenai saluran pencernaan. Dua bentuk utamanya adalah Crohn disease dan ulcerative colitis. Crohn disease dapat mengenai berbagai bagian saluran cerna dan menyebabkan inflamasi transmural, striktur, fistula, atau abses. Ulcerative colitis terutama mengenai kolon dan rektum dengan inflamasi mukosa yang kontinu. Keduanya mempunyai perjalanan penyakit yang dapat berulang dan membutuhkan pemantauan jangka panjang. Pedoman ACG 2025 untuk pasien dewasa menempatkan remisi jangka panjang tanpa steroid sebagai salah satu tujuan utama terapi.

APAKAH IBD BISA SEMBUH?

  • Istilah “sembuh” harus digunakan secara hati-hati.
  • Pada Crohn disease, belum tersedia terapi yang dapat menghilangkan penyakit secara permanen. Terapi ditujukan untuk mengendalikan inflamasi, mencapai remisi, mencegah kerusakan usus, dan mempertahankan kualitas hidup. ECCO menyebut Crohn disease sebagai penyakit kronis yang dapat menyebabkan kerusakan usus progresif dan menyatakan bahwa terapi kuratif belum tersedia.
  • Pada ulcerative colitis, situasinya berbeda. Penyakit terutama berada pada kolon dan rektum. Kolektomi dapat menghilangkan jaringan kolon yang terkena penyakit. Namun, tindakan tersebut merupakan operasi besar dan memiliki konsekuensi jangka panjang. Operasi biasanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu seperti penyakit yang tidak terkendali dengan terapi medis, komplikasi berat, atau kondisi tertentu yang meningkatkan risiko kanker.
  • Karena itu, remisi harus dibedakan dari kesembuhan definitif.

REMI SI BUKAN BERARTI PENYAKIT HILANG

  • Pasien IBD dapat merasa sehat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. BAB kembali normal, nyeri perut menghilang, nafsu makan membaik, dan berat badan stabil.
  • Namun, gejala klinis tidak selalu mencerminkan aktivitas inflamasi di dalam usus.
  • Inflamasi dapat tetap berlangsung tanpa gejala yang jelas. Karena itu, terapi modern menggunakan konsep treat-to-target.

Target terapi dapat mencakup:

  • • remisi klinis
  • • bebas steroid
  • • normalisasi atau perbaikan biomarker inflamasi
  • • penurunan fecal calprotectin
  • • perbaikan endoskopik
  • • pencegahan kerusakan usus
  • • pencegahan rawat inap dan operasi
  • • kualitas hidup yang baik

Pedoman ACG 2025 untuk ulcerative colitis secara khusus merekomendasikan pemantauan fecal calprotectin dan pencapaian perbaikan endoskopik sebagai bagian dari strategi treat-to-target.

IBD PADA USIA DEWASA

Pada dewasa muda dan usia pertengahan, IBD dapat muncul ketika seseorang sedang aktif bekerja, membangun keluarga, atau menjalani pendidikan.

Dampaknya tidak hanya pada saluran cerna.

Pasien dapat mengalami:

  • • kelelahan
  • • anemia
  • • penurunan berat badan
  • • gangguan tidur
  • • gangguan aktivitas seksual
  • • gangguan pekerjaan
  • • kecemasan dan depresi
  • • gangguan kualitas hidup
  • • manifestasi di luar saluran cerna

IBD juga dapat menyebabkan manifestasi ekstraintestinal pada kulit, mata, sendi, hati, dan organ lain. Pedoman ECCO 2024 membahas berbagai manifestasi ekstraintestinal tersebut dan menekankan perlunya pendekatan multidisiplin.

IBD PADA USIA LANJUT

IBD pada lansia memiliki tantangan berbeda.

Pasien yang berusia lebih tua lebih sering mempunyai:

  • • hipertensi
  • • diabetes
  • • penyakit jantung
  • • penyakit ginjal
  • • penyakit paru
  • • osteoporosis
  • • gangguan kognitif
  • • keganasan sebelumnya
  • • banyak obat yang dikonsumsi secara bersamaan

Kondisi ini disebut multimorbiditas dan dapat membuat pemilihan terapi menjadi lebih kompleks.

ECCO menekankan bahwa pasien lansia mempunyai beban komorbiditas dan polifarmasi yang lebih tinggi. Perubahan fungsi ginjal dan hati akibat proses penuaan juga dapat memengaruhi penggunaan obat.

IBD BARU MUNCUL PADA LANSIA

  • IBD tidak hanya terjadi pada orang yang telah didiagnosis sejak muda.
  • Sebagian pasien baru mendapatkan diagnosis IBD pada usia lanjut.
  • Pada kelompok ini, dokter harus melakukan evaluasi yang lebih luas karena gejala seperti diare, anemia, penurunan berat badan, atau perdarahan saluran cerna dapat disebabkan oleh banyak kondisi lain.

Diagnosis harus mempertimbangkan:

  • • infeksi
  • • efek obat
  • • kanker kolorektal
  • • diverticular disease
  • • microscopic colitis
  • • ischemic colitis
  • • penyakit pembuluh darah
  • • efek terapi lain

• IBD

Karena itu, diagnosis IBD pada lansia membutuhkan evaluasi yang sistematis.

MENGAPA TERAPI LANSIA LEBIH KOMPLEKS?

  • Masalah utama bukan sekadar usia.
  • Masalahnya adalah cadangan fisiologis yang semakin berkurang dan meningkatnya penyakit penyerta.
  • Lansia lebih rentan mengalami infeksi karena proses immunosenescence. Risiko tersebut dapat semakin meningkat ketika terdapat inflamasi aktif, malnutrisi, komorbiditas, dan penggunaan obat imunosupresif.
  • Pedoman ECCO 2026 mengenai pencegahan dan tata laksana infeksi pada IBD menekankan bahwa usia lanjut, komorbiditas, malnutrisi, aktivitas penyakit, serta terapi imunosupresif merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam risiko infeksi.

FRAILTY

  • Salah satu konsep penting pada pasien lansia adalah frailty.
  • Frailty menggambarkan kondisi ketika cadangan fisiologis tubuh berkurang sehingga seseorang lebih rentan mengalami komplikasi ketika menghadapi stres seperti infeksi, operasi, atau flare IBD.
  • Frailty tidak sama dengan usia kronologis.
  • Dua orang yang sama-sama berusia 75 tahun dapat mempunyai kondisi fisik yang sangat berbeda.
  • Karena itu, dokter sebaiknya tidak hanya bertanya: “Berapa usia pasien?”
  • Tetapi juga: “Seberapa kuat dan mandiri pasien tersebut?”
  • ECCO mencatat bahwa frailty pada pasien IBD berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi dan luaran buruk. Pendekatan terapi perlu dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan keseimbangan manfaat dan risiko.

APAKAH LANSIA BOLEH MENDAPAT OBAT BIOLOGIS?

  • Usia lanjut tidak otomatis berarti pasien tidak boleh mendapatkan biologic therapy.
  • Ini merupakan poin penting.
  • Pasien lansia dengan IBD aktif dapat mengalami kerusakan usus, malnutrisi, rawat inap, infeksi akibat penyakit yang tidak terkendali, dan kebutuhan steroid berkepanjangan.
  • Karena itu, dokter harus membandingkan dua risiko:
    1. risiko penyakit yang tidak terkontrol
    2. dengan risiko terapi.

ECCO 2026 menyatakan bahwa keputusan imunososupresi pada lansia harus dilakukan secara individual. Dalam kondisi tertentu, terapi dengan profil keamanan yang lebih sesuai dapat dipertimbangkan. Data yang tersedia menunjukkan bahwa beberapa terapi seperti vedolizumab dan terapi anti-IL-12/23 atau anti-IL-23 dapat menjadi pilihan pada pasien tertentu, sementara penggunaan JAK inhibitor pada lansia memerlukan seleksi yang lebih hati-hati.

STEROID PADA LANSIA

Kortikosteroid dapat mengendalikan flare dengan cepat.

Namun, penggunaan jangka panjang mempunyai banyak konsekuensi.

Pada lansia, masalah tersebut dapat menjadi lebih penting karena meningkatnya risiko:

  • • osteoporosis
  • • fraktur
  • • diabetes
  • • hipertensi
  • • infeksi
  • • kelemahan otot
  • • gangguan mental
  • • katarak
  • • komplikasi metabolik

Karena itu, tujuan terapi modern adalah mencapai remisi bebas steroid.

Pedoman ACG 2025 menempatkan steroid-free remission sebagai target utama terapi ulcerative colitis.

NUTRISI PADA DEWASA DAN LANSIA

Masalah nutrisi dapat terjadi pada IBD aktif.

Pada Crohn disease, inflamasi dan gangguan penyerapan dapat menyebabkan kekurangan energi, protein, zat besi, vitamin B12, vitamin D, dan mikronutrien lainnya.

Pada lansia, masalah tersebut dapat diperberat oleh:

  • • nafsu makan menurun
  • • gangguan gigi dan menelan
  • • kesulitan menyiapkan makanan
  • • penyakit kronis lain
  • • keterbatasan ekonomi
  • • polifarmasi
  • • sarcopenia

Karena itu, evaluasi nutrisi merupakan bagian penting dari pengelolaan IBD.

SARCOPENIA DAN IBD

  • Pada lansia, massa otot merupakan parameter penting.
  • Peradangan kronis, kurang makan, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan steroid dapat berkontribusi terhadap hilangnya massa dan kekuatan otot.
  • Pasien dapat mengalami penurunan berat badan tetapi masalah utamanya sebenarnya adalah kehilangan massa otot.
  • Karena itu, penilaian nutrisi pada lansia tidak cukup hanya menggunakan berat badan dan indeks massa tubuh.
  • Fungsi fisik, kekuatan otot, asupan protein, dan komposisi tubuh juga perlu diperhatikan.

KANKER DAN IBD

  • IBD mempunyai hubungan dengan peningkatan risiko beberapa keganasan, terutama kanker kolorektal pada pasien dengan kolitis yang berlangsung lama.
  • Risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti durasi penyakit, luas kolitis, aktivitas inflamasi, riwayat keluarga, dan kondisi tertentu lainnya.
  • Pada saat yang sama, beberapa terapi IBD juga mempunyai pertimbangan keamanan terkait keganasan.
  • Karena itu, pasien IBD memerlukan strategi surveillance kanker yang sesuai dengan risiko individual.
  • ECCO mempunyai pedoman khusus mengenai hubungan IBD dan keganasan, termasuk risiko kanker yang berhubungan dengan penyakit maupun terapi.

VAKSINASI DAN PENCEGAHAN INFEKSI

  • Pencegahan infeksi menjadi semakin penting pada pasien yang menggunakan terapi imunosupresif.
  • Sebelum dan selama terapi, dokter dapat mengevaluasi status vaksinasi dan risiko infeksi tertentu.
  • Pada lansia, perhatian khusus diperlukan terhadap infeksi seperti herpes zoster, influenza, pneumokokus, COVID-19, hepatitis, tuberculosis, serta infeksi oportunistik tertentu sesuai kondisi dan terapi yang digunakan.
  • Pedoman ECCO terbaru menekankan pendekatan preventif terhadap infeksi pada era biologis dan small molecules.

OBAT IBD SEMAKIN BERKEMBANG

Pilihan terapi IBD dewasa saat ini jauh lebih banyak dibandingkan beberapa dekade lalu.

Terapi dapat mencakup:

  • • 5-ASA
  • • kortikosteroid
  • • thiopurine
  • • methotrexate
  • • anti-TNF
  • • vedolizumab
  • • ustekinumab
  • • terapi anti-IL-23
  • • JAK inhibitor
  • • S1P receptor modulator
  • • terapi molekul kecil lainnya
  • • operasi pada kondisi tertentu

Pedoman ACG 2025 untuk Crohn disease dan ulcerative colitis telah memasukkan berbagai terapi biologis dan small molecules dalam strategi pengobatan modern.

PEMILIHAN OBAT TIDAK BOLEH HANYA BERDASARKAN DIAGNOSIS

Dua pasien dengan diagnosis Crohn disease dapat memperoleh terapi yang berbeda.

Contohnya:

  • Pasien A berusia 30 tahun, tanpa komorbiditas, mengalami penyakit inflamasi berat.
  • Pasien B berusia 78 tahun, mempunyai diabetes, penyakit ginjal kronis, osteoporosis, dan menggunakan banyak obat.
  • Diagnosisnya sama.
  • Strategi terapinya belum tentu sama.
  • Dokter harus mempertimbangkan usia biologis, komorbiditas, risiko infeksi, risiko kanker, status nutrisi, aktivitas penyakit, riwayat terapi, serta tujuan pasien.

KONSEP TREAT-TO-TARGET

  • Pengobatan IBD modern tidak hanya bertujuan membuat pasien merasa lebih baik.
  • Targetnya adalah mengendalikan proses penyakit.
  • Secara sederhana:
    • Gejala membaik → belum tentu cukup.
    • CRP membaik → belum tentu cukup.
    • Fecal calprotectin membaik → lebih baik.
      • Endoskopi menunjukkan perbaikan → target semakin dalam.
  • Remisi bebas steroid dan kontrol inflamasi jangka panjang → tujuan utama.
  • Pedoman ACG 2025 menekankan integrasi data klinis, endoskopik, histologis, dan biomarker dalam pemantauan pasien.

IBD PADA DEWASA MUDA, DEWASA PERTENGAHAN, DAN LANSIA

AspekDewasaLansia
Tujuan terapiRemisi dan pencegahan kerusakanRemisi dengan keamanan optimal
KomorbiditasRelatif lebih sedikitLebih sering
PolifarmasiLebih jarangLebih sering
InfeksiRisiko dipengaruhi terapiRisiko lebih tinggi
FrailtyBiasanya lebih rendahLebih sering
NutrisiPerlu diperhatikanRisiko malnutrisi dan sarcopenia lebih tinggi
SteroidDihindari jangka panjangRisiko komplikasi lebih besar
BiologisBanyak pilihanPemilihan perlu lebih individual
KankerSurveillance sesuai risikoSurveillance dan skrining harus disesuaikan
OperasiBerdasarkan indikasiRisiko operasi perlu dinilai lebih komprehensif
Target terapiRemisi dan kontrol inflamasiRemisi, kontrol inflamasi, fungsi, keamanan

APAKAH PASIEN IBD BISA HIDUP NORMAL?

  • Banyak pasien IBD dapat menjalani kehidupan produktif ketika penyakit terkontrol.
  • Tujuan pengobatan bukan hanya membuat pasien tidak diare.
  • Tujuannya adalah menjaga pasien tetap aktif, bekerja, bersosialisasi, mempertahankan nutrisi, mencegah kerusakan organ, dan mengurangi risiko rawat inap serta operasi.
  • Pada lansia, tujuan tersebut ditambah dengan mempertahankan kemandirian, fungsi fisik, dan kualitas hidup.

IBD DAN PENUAAN

Semakin banyak pasien IBD yang mencapai usia lanjut karena terapi semakin efektif.

Artinya, pengelolaan IBD tidak lagi hanya membahas flare dan remisi.

Dokter juga harus memikirkan:

  • • kesehatan tulang
  • • vaksinasi
  • • kanker
  • • penyakit jantung
  • • diabetes
  • • fungsi ginjal
  • • fungsi hati
  • • interaksi obat
  • • nutrisi
  • • sarcopenia
  • • frailty
  • • kesehatan mental
  • • kemandirian pasien

Kerangka pelayanan IBD modern semakin menempatkan pasien sebagai pusat pengambilan keputusan dan menggunakan pendekatan multidisiplin.

KESIMPULAN

  • IBD merupakan penyakit kronis yang dapat mengenai orang dewasa sampai lansia. Crohn disease belum mempunyai terapi yang dapat menghilangkan penyakit secara permanen. Pada ulcerative colitis, kolektomi dapat menghilangkan penyakit pada kolon, tetapi merupakan tindakan besar dan bukan pilihan untuk semua pasien.
  • Kemajuan terapi telah mengubah tujuan pengobatan. Dokter tidak lagi hanya mengejar hilangnya gejala. Targetnya mencakup remisi bebas steroid, pengendalian inflamasi, perbaikan endoskopik, pencegahan kerusakan usus, pencegahan komplikasi, dan kualitas hidup yang baik.
  • Pada lansia, usia kronologis tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan terapi. Komorbiditas, polifarmasi, frailty, status nutrisi, risiko infeksi, risiko kanker, fungsi organ, dan tujuan pasien harus diperhitungkan.
  • Dengan pendekatan individual dan pemantauan yang tepat, pasien IBD dapat mencapai remisi jangka panjang. Tantangan terbesar pada lansia bukan hanya mengendalikan inflamasi, tetapi menemukan keseimbangan antara efektivitas terapi, keamanan, fungsi fisik, kemandirian, dan kualitas hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *