DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Anemia Defisiensi Besi pada Anak: Suatu Tinjauan Komprehensif

Anemia Defisiensi Besi pada Anak: Suatu Tinjauan Komprehensif

Abstrak

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan jenis anemia paling umum pada anak di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara berkembang. Kondisi ini terjadi akibat kurangnya cadangan besi dalam tubuh sehingga produksi hemoglobin terganggu dan kapasitas pengangkutan oksigen menurun. Manifestasi klinis meliputi pucat, kelelahan, gangguan nafsu makan, serta gangguan kognitif dan perilaku yang dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan anak. Artikel ini membahas aspek epidemiologi, etiologi, tanda dan gejala, diagnosis, penatalaksanaan medikamentosa dan diet, serta strategi pencegahan ADB berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Pendahuluan

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu kondisi gizi yang paling sering dijumpai pada anak, terutama pada usia balita dan remaja yang sedang mengalami pertumbuhan pesat sehingga kebutuhan nutrisinya meningkat. Kekurangan asupan besi, penyerapan yang buruk, atau kehilangan darah dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, yang pada akhirnya mengganggu fungsi fisiologis tubuh. Selain menurunkan daya tahan tubuh dan menyebabkan kelelahan, ADB memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan otak anak.

Secara global, anemia akibat defisiensi besi merupakan penyebab utama morbiditas anak dan berhubungan dengan penurunan kemampuan belajar, atensi, dan performa akademik. Mengingat besarnya beban penyakit ini, pemahaman yang mendalam mengenai epidemiologi, penyebab, dan penanganan yang tepat sangat diperlukan. Upaya promotif dan preventif sangat penting, mengingat efek jangka panjang ADB dapat menetap meskipun kadar hemoglobin telah kembali normal.

Epidemiologi

Secara global, lebih dari 40% anak usia di bawah lima tahun mengalami anemia, dan sekitar setengahnya disebabkan oleh defisiensi besi. Prevalensi paling tinggi ditemukan di wilayah Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara, dan Asia Tenggara. Faktor risiko yang berkontribusi meliputi kemiskinan, akses pangan terbatas, infeksi kronis, serta pola makan rendah zat besi.

Di negara berkembang, tingginya angka kelahiran dengan berat badan rendah serta praktik pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak adekuat turut meningkatkan risiko ADB. Remaja putri juga termasuk kelompok risiko tinggi akibat menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama masa pubertas. Pada banyak negara, prevalensi ADB bertahan tinggi meskipun terdapat program suplementasi besi, menunjukkan perlunya pendekatan multifaktorial.

Selain faktor gizi, infeksi kronis seperti malaria, helminthiasis, serta inflamasi kronis turut memperparah kondisi ADB melalui gangguan metabolisme besi. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan tetap menjadi faktor dominan.

Penyebab

Penyebab utama anemia defisiensi besi pada anak adalah asupan besi yang tidak mencukupi, terutama pada masa pertumbuhan cepat. MPASI rendah zat besi, konsumsi susu sapi berlebihan, dan pola makan minim sumber heme iron menjadi penyebab umum. Selain itu, gangguan penyerapan besi seperti penyakit celiac, inflamasi usus, atau diare kronis dapat memperburuk kondisi.

Kehilangan darah juga menjadi faktor penyebab, baik akibat parasitosis usus seperti cacing tambang, perdarahan gastrointestinal, atau menstruasi pada remaja putri. Kondisi prematuritas, berat badan lahir rendah, dan anemia ibu selama kehamilan turut meningkatkan risiko karena cadangan besi bayi rendah sejak lahir.

Tanda dan Gejala

  • Gejala klinis anemia defisiensi besi sering tidak spesifik dan berkembang perlahan. Anak biasanya tampak pucat, cepat lelah, lemas, dan kurang berenergi. Pada kasus sedang hingga berat, dapat muncul takikardi, sesak saat aktivitas, serta keluhan pusing. Selain gejala fisik, ADB berdampak langsung pada perkembangan neurokognitif.
  • Gangguan konsentrasi, iritabilitas, kesulitan belajar, dan penurunan performa akademik sering ditemukan. Pada bayi, ADB dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan motorik dan sosial. Pada kasus kronis, manifestasi lebih lanjut seperti koilonychia, glositis, dan pica dapat muncul sebagai tanda klasik defisiensi besi.
  • Pica, yaitu keinginan mengonsumsi benda tidak lazim (tanah, es), merupakan gejala khas namun tidak spesifik.

Diagnosis

Diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium. Hemoglobin dan hematokrit rendah menjadi temuan awal, tetapi pemeriksaan ferritin merupakan indikator paling sensitif untuk menilai cadangan besi. Ferritin rendah mengonfirmasi defisiensi besi, namun dapat meningkat palsu pada kondisi inflamasi.

Pemeriksaan tambahan seperti saturasi transferin, TIBC (total iron-binding capacity), dan serum iron membantu menilai status besi lebih rinci. Gambaran darah tepi biasanya menunjukkan mikrositik-hipokromik dengan peningkatan RDW. Pada anak dengan faktor risiko infeksi atau inflamasi, pemeriksaan CRP dapat membantu interpretasi hasil ferritin.

Evaluasi etiologi penting untuk menentukan penyebab dasar, termasuk penilaian pola makan, perdarahan gastrointestinal, atau infeksi parasit. Pada kasus remaja, riwayat menstruasi perlu ditanyakan secara rinci.

Komplikasi

  • Komplikasi anemia defisiensi besi (ADB) pada anak dapat melibatkan berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan, terutama karena besi merupakan komponen penting dalam metabolisme seluler dan perkembangan otak. Salah satu komplikasi paling signifikan adalah gangguan perkembangan neurokognitif, termasuk penurunan memori kerja, gangguan perhatian, keterlambatan perkembangan motorik, serta penurunan kemampuan bahasa dan sosial. Studi longitudinal menunjukkan bahwa anak dengan ADB pada masa awal kehidupan dapat mengalami dampak jangka panjang pada fungsi kognitif yang tidak sepenuhnya pulih meskipun status besi diperbaiki. Kekurangan besi yang berkepanjangan juga mengganggu mielinisasi neuron dan aktivitas neurotransmiter, terutama dopamin dan serotonin, sehingga berdampak pada perilaku, regulasi emosi, dan kemampuan belajar.
  • Komplikasi lainnya adalah penurunan daya tahan tubuh karena besi dibutuhkan untuk fungsi sistem imun bawaan dan adaptif. Anak dengan ADB cenderung lebih rentan terhadap infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan dan gastrointestinal, akibat penurunan aktivitas neutrofil, macrophage, serta gangguan proliferasi limfosit. Kekurangan besi juga dikaitkan dengan gangguan termoregulasi dan meningkatnya risiko komplikasi ketika anak terkena infeksi berat. Selain itu, anak dengan anemia berat dapat mengalami takikardia, murmur fungsional, atau peningkatan curah jantung sebagai kompensasi terhadap hipoksia jaringan. Jika berlangsung lama, kondisi ini berpotensi menyebabkan dilatasi jantung dan gagal jantung kongestif, meskipun jarang.
  • Pada tingkat populasi, ADB memberikan dampak sosial dan ekonomi jangka panjang. Anak dengan anemia kronis cenderung mengalami penurunan kemampuan akademik, kelelahan kronis, dan kualitas hidup yang lebih rendah. Dalam jangka panjang, ADB dapat memengaruhi produktivitas dan kapasitas kerja seseorang pada usia dewasa, sehingga meningkatkan beban ekonomi keluarga maupun negara. Di negara berkembang, ADB juga berkaitan dengan risiko tumbuh pendek (stunting) akibat sinergi antara defisiensi mikronutrien, infeksi, dan gangguan metabolisme. Komplikasi-komplikasi ini menegaskan pentingnya deteksi dini, edukasi keluarga, serta intervensi gizi berkelanjutan untuk memutus dampak jangka panjang ADB terhadap kehidupan anak.

Penanganan 

Terapi utama anemia defisiensi besi adalah suplementasi besi oral. Preparat yang umum digunakan adalah ferrous sulfate, ferrous fumarate, dan ferrous gluconate dengan dosis 3–6 mg/kg/hari elemental iron. Suplementasi diberikan selama minimal 3 bulan setelah hemoglobin normal untuk mengisi ulang cadangan besi. Efek samping seperti mual atau konstipasi dapat diatasi dengan menyesuaikan dosis atau mengonsumsi obat bersama makanan.

Untuk kasus dengan intoleransi berat terhadap preparat oral, malabsorpsi, atau anemia berat yang membutuhkan koreksi cepat, terapi besi intravena dapat dipertimbangkan. Penggunaan transfusi darah hanya untuk keadaan darurat seperti anemia berat dengan instabilitas hemodinamik. Selain terapi farmakologis, intervensi diet sangat penting dalam keberhasilan penanganan.

Diet anak harus mengandung sumber besi heme seperti daging merah, ayam, ikan, serta besi non-heme dari kacang-kacangan, sayuran hijau, dan sereal fortifikasi. Penyerapan besi meningkat dengan vitamin C dan menurun oleh konsumsi teh, kopi, atau susu berlebihan. Edukasi keluarga mengenai pola makan sehat merupakan komponen integral terapi.

Pencegahan

  • Pencegahan anemia defisiensi besi melibatkan intervensi pada berbagai tahapan, mulai dari masa kehamilan. Suplementasi besi pada ibu hamil terbukti menurunkan risiko anemia pada bayi. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan pemberian MPASI kaya zat besi sangat dianjurkan.
  • Pada anak usia 6–24 bulan, penggunaan makanan fortifikasi besi efektif menurunkan prevalensi ADB. Intervensi kesehatan masyarakat seperti pemberantasan cacing, perbaikan sanitasi, serta edukasi gizi keluarga berperan penting. Remaja putri memerlukan perhatian khusus karena risiko meningkat akibat menstruasi.
  • Upaya pencegahan yang konsisten dapat mengurangi dampak jangka panjang ADB terhadap tumbuh kembang dan kualitas hidup anak.

Kesimpulan

Anemia defisiensi besi merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anak dan berdampak luas terhadap perkembangan fisik serta kognitif. Diagnosis yang tepat, penanganan medikamentosa dan diet yang adekuat, serta strategi pencegahan yang komprehensif sangat penting dalam mengatasi masalah ini. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, keluarga, dan pemerintah diperlukan untuk menurunkan prevalensi ADB dan meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak.

Daftar Pustaka 

  • World Health Organization. Iron Deficiency Anaemia: Assessment, Prevention, and Control. WHO; 2001.
  • Baker RD, Greer FR. Diagnosis and prevention of iron deficiency and iron-deficiency anemia in infants and young children. Pediatrics. 2010;126(5):1040–1050.
  • McLean E, Cogswell M, Egli I, Wojdyla D, de Benoist B. Worldwide prevalence of anemia, WHO Vitamin and Mineral Nutrition Information System. Public Health Nutr. 2009;12(4):444–454.
  • Lozoff B, Beard J, Connor J, Felt B, Georgieff M, Schallert T. Long-lasting neural and behavioral effects of iron deficiency in infancy. Nutr Rev. 2006;64(5):S34–S43.
  • Short MW, Domagalski JE. Iron deficiency anemia: evaluation and management. Am Fam Physician. 2013;87(2):98–104.
  • Kassebaum NJ et al. A systematic analysis of global anemia burden 1990–2010. Blood. 2014;123(5):615–624.
  • Dewey KG, Chaparro CM. Iron Status of Breast-Fed Infants. J Nutr. 2007;137(4):683–689.
  • Lukowski AF, Koss M, Burden MJ, et al. Iron deficiency in infancy and neurocognitive development at 9 years. Dev Psychol. 2010;46(6):1771–1778.
  • American Academy of Pediatrics. Pediatric Nutrition Handbook. 7th ed. American Academy of Pediatrics; 2014.
  • Clark SF. Iron deficiency anemia. Nutr Clin Pract. 2008;23(2):128–141.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *