Prosedur Terapi Oksigen pada Kegawatdaruratan Obstetri: Pendekatan Berbasis Bukti Menurut WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG
Abstrak
Terapi oksigen merupakan salah satu komponen utama dalam resusitasi kegawatdaruratan obstetri. Hipoksemia akibat perdarahan masif, syok, eklamsia, emboli cairan ketuban, sepsis, edema paru, maupun henti jantung dapat menyebabkan gangguan oksigenasi jaringan ibu dan janin sehingga meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Pedoman WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG menekankan bahwa pemberian oksigen harus berdasarkan indikasi klinis dan target saturasi oksigen, bukan diberikan secara rutin pada semua pasien. Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan oksigenasi jaringan, mencegah hipoksia organ vital, serta memperbaiki perfusi maternal dan janin.
Pendahuluan
Kehamilan meningkatkan kebutuhan oksigen sekitar 20–30% akibat perubahan fisiologis maternal dan kebutuhan metabolik janin. Pada keadaan gawat darurat, penurunan oksigenasi dapat berlangsung sangat cepat karena berkurangnya cadangan oksigen dan meningkatnya konsumsi oksigen. Oleh karena itu, identifikasi dini hipoksemia dan pemberian terapi oksigen yang tepat merupakan bagian penting dari pendekatan resusitasi ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure).
Prinsip tata laksana modern menekankan bahwa oksigen merupakan obat yang memiliki indikasi, dosis, cara pemberian, target terapi, dan potensi efek samping. Penggunaan oksigen secara rasional harus selalu disertai pemantauan saturasi oksigen (pulse oximetry) serta evaluasi klinis yang berkesinambungan.
Indikasi Terapi Oksigen
Terapi oksigen diberikan pada pasien dengan:
– Syok hemoragik.
– Perdarahan postpartum berat.
– Solusio plasenta.
– Plasenta previa dengan perdarahan masif.
– Preeklamsia berat dan eklamsia dengan hipoksemia.
– Sepsis dan syok septik.
– Emboli cairan ketuban.
– Emboli paru.
– Edema paru akut.
– Gangguan napas.
– Henti jantung.
– Saturasi oksigen (SpO₂) <94% atau sesuai kondisi klinis.
Tujuan Terapi Oksigen
– Mempertahankan SpO₂ ≥94–98%.
– Mengurangi hipoksia jaringan.
– Mempertahankan perfusi otak, jantung, ginjal, dan plasenta.
– Mengoptimalkan oksigenasi janin.
– Menurunkan risiko gagal organ.
Prosedur Terapi Oksigen
1. Penilaian Awal
Lakukan evaluasi cepat:
– Jalan napas.
– Pola napas.
– Frekuensi napas.
– Saturasi oksigen.
– Warna kulit.
– Tingkat kesadaran.
2. Posisikan Pasien
- Posisi semi-Fowler bila tidak hipotensi.
- Miring ke kiri (left lateral tilt) sekitar 15–30° pada usia kehamilan lanjut untuk mengurangi kompresi vena kava.
3. Pilih Alat Pemberian Oksigen
Kanul Nasal
Indikasi:
– Hipoksemia ringan.
- Aliran: 2–5 L/menit.
- Masker Sederhana
- Indikasi:Prosedur Terapi Oksigen pada Kegawatdaruratan Obstetri: Pendekatan Berbasis Bukti Menurut WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG
– Hipoksemia sedang.
- Aliran: 5–10 L/menit.
- Masker Non-Rebreathing
- Pilihan utama pada kegawatdaruratan obstetri berat.
- Aliran: 10–15 L/menit.
- Dapat memberikan konsentrasi oksigen hingga ±90–95%.
Bag-Valve-Mask (BVM)
Digunakan pada:
– Apnea.
– Gagal napas.
– Henti jantung.
– Sebelum intubasi.
Ventilasi Mekanik
Indikasi:
– Gagal napas berat.
– Penurunan kesadaran.
– ARDS.
– Edema paru berat.
– Emboli cairan ketuban.
Monitoring Selama Terapi
Pantau secara berkala:
– Saturasi oksigen.
– Frekuensi napas.
– Tekanan darah.
– Nadi.
– Tingkat kesadaran.
– Warna kulit.
– Analisis gas darah bila tersedia.
Target Terapi
– SpO₂ ≥94%.
– Frekuensi napas normal.
– Tidak terdapat sianosis.
– Perfusi perifer membaik.
– Kesadaran membaik.
Evaluasi Respons
Bila oksigenasi tidak membaik:
– Pastikan jalan napas terbuka.
– Evaluasi adanya edema paru atau emboli paru.
– Pertimbangkan intubasi endotrakeal.
– Konsultasi dengan dokter anestesi/intensif.
Komplikasi Terapi Oksigen
– Kekeringan mukosa hidung.
– Iritasi saluran napas.
– Retensi karbon dioksida pada pasien tertentu.
– Toksisitas oksigen pada penggunaan konsentrasi tinggi dalam waktu lama.
– Atelektasis absorpsi.
Prinsip Keselamatan
– Gunakan oksigen sesuai indikasi klinis.
– Monitor saturasi secara kontinu.
– Hindari penghentian oksigen secara mendadak pada pasien yang masih membutuhkan.
– Pastikan peralatan oksigen berfungsi dengan baik.
– Terapkan prosedur keselamatan terhadap risiko kebakaran.
Ringkasan Poin Penting
- Terapi oksigen merupakan bagian penting dari resusitasi awal kegawatdaruratan obstetri.
- Masker non-rebreathing dengan aliran 10–15 L/menit merupakan pilihan utama pada hipoksemia berat atau syok.
- Target saturasi oksigen umumnya ≥94%.
- Pemantauan klinis dan pulse oximetry harus dilakukan secara kontinu.
- Bila terapi oksigen tidak memperbaiki kondisi, segera lakukan ventilasi lanjut dan tata laksana definitif penyebab hipoksemia.
- Terapi oksigen harus dikombinasikan dengan resusitasi cairan, transfusi darah, terapi medikamentosa, dan tindakan obstetri yang sesuai.
Daftar Pustaka
- World Health Organization (WHO). WHO Recommendations: Intrapartum Care for a Positive Childbirth Experience. https://www.who.int/publication
- International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). FIGO Good Clinical Practice Recommendations for Obstetric Emergencies. https://www.figo.org
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Practice Bulletin: Obstetric Emergencies and Maternal Resuscitation. https://www.acog.org
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Green-top Guidelines: Maternal Collapse in Pregnancy and the Puerperium. https://www.rcog.org.ukSaya juga dapat menyusun **algoritme resusitasi kegawatdaruratan obstetri** yang mengintegrasikan **ABCDE, terapi oksigen, terapi cairan, transfusi darah, terapi medikamentosa, dan tindakan bedah** dalam satu bagan alur praktis sesuai pedoman WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG.













Leave a Reply