DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Anak Sangat Aktif, Sulit Fokus, dan Tidak Bisa Diam: Apakah Hanya Aktif Biasa atau Sudah Mengarah ke ADHD?

Anak Sangat Aktif, Sulit Fokus, dan Tidak Bisa Diam: Apakah Hanya Aktif Biasa atau Sudah Mengarah ke ADHD?

Tanya

Dok, anak laki-laki saya berusia 5 tahun sejak sekitar satu tahun terakhir semakin sulit diatur, sangat aktif hampir sepanjang hari, dan hampir tidak pernah bisa duduk tenang meskipun hanya beberapa menit. Di taman kanak-kanak gurunya mengeluhkan bahwa anak saya sering berjalan-jalan di dalam kelas saat pelajaran berlangsung, menyela pembicaraan guru, sulit menyelesaikan tugas sederhana, mudah teralihkan oleh suara atau gerakan kecil di sekitarnya, serta sering mengganggu teman karena tidak sabar menunggu giliran. Di rumah kondisinya juga sama; ia sering berpindah dari satu permainan ke permainan lain tanpa menyelesaikannya, kehilangan barang-barangnya sendiri, tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara, dan sering melakukan tindakan berbahaya tanpa mempertimbangkan risiko, seperti memanjat lemari atau berlari ke jalan. Namun, ia masih dapat berbicara lancar, melakukan kontak mata dengan baik, dan senang bermain bersama teman-temannya. Selain itu, anak saya sering tidur larut malam, nafsu makannya kurang baik, kadang mengalami sembelit dan perut kembung, sehingga saya khawatir ada masalah kesehatan lain yang ikut memengaruhi perilakunya. Apakah kondisi ini hanya merupakan variasi perkembangan anak yang aktif, atau sudah mengarah ke Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) maupun gangguan perkembangan saraf lainnya? Bagaimana dokter membedakan ADHD dengan perilaku aktif normal, gangguan spektrum autisme, gangguan tidur, gangguan belajar, atau kondisi medis lain yang dapat memberikan gejala serupa, serta pemeriksaan apa saja yang diperlukan agar diagnosis dan penanganannya benar-benar tepat?

Jawab, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Anak usia prasekolah memang secara alami memiliki aktivitas fisik yang tinggi karena sedang berada pada fase eksplorasi lingkungan dan perkembangan motorik yang pesat. Namun, aktivitas yang masih termasuk variasi perkembangan normal umumnya tidak mengganggu fungsi sehari-hari. Anak masih mampu duduk tenang ketika diperlukan, mengikuti instruksi sederhana, bermain sesuai aturan, serta mempertahankan perhatian pada aktivitas yang disukainya sesuai tahap perkembangan. Sebaliknya, bila hiperaktivitas, gangguan perhatian, dan impulsivitas berlangsung terus-menerus, muncul di rumah maupun sekolah, serta mengganggu proses belajar, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari, maka diperlukan evaluasi lebih lanjut.

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah salah satu gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang ditandai oleh pola menetap berupa gangguan perhatian (inattention), hiperaktivitas (hyperactivity), dan impulsivitas (impulsivity) yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak. Berdasarkan pedoman DSM-5-TR dan ICD-11, diagnosis ADHD hanya dapat ditegakkan apabila gejala telah berlangsung sedikitnya enam bulan, muncul sebelum usia 12 tahun, ditemukan pada sedikitnya dua lingkungan berbeda, seperti rumah dan sekolah, serta menyebabkan gangguan nyata terhadap fungsi akademik, sosial, atau perilaku sehari-hari.

Secara biologis, ADHD berkaitan dengan gangguan pematangan dan fungsi jaringan otak, terutama pada korteks prefrontal, ganglia basalis, serebelum, dan jalur frontostriatal yang berperan dalam fungsi eksekutif (executive function). Gangguan pada sistem neurotransmiter dopamin dan norepinefrin menyebabkan anak mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, mengatur perilaku, merencanakan aktivitas, serta menghambat respons yang tidak sesuai. Oleh karena itu, ADHD bukan disebabkan oleh pola asuh yang buruk atau kurang disiplin, melainkan merupakan gangguan neurobiologis yang telah dibuktikan melalui berbagai penelitian.

Diagnosis ADHD tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan perilaku anak yang sangat aktif. Dokter harus melakukan evaluasi perkembangan secara komprehensif melalui wawancara mendalam dengan orang tua, informasi dari guru, observasi perilaku anak, pemeriksaan fisik dan neurologis, serta penggunaan kuesioner atau instrumen penilaian yang telah tervalidasi. Selain memastikan bahwa gejala memenuhi kriteria diagnostik, dokter juga harus menilai derajat gangguan fungsi dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis ADHD adalah banyaknya kondisi lain yang dapat memberikan gejala serupa. Anak dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) juga dapat tampak hiperaktif, tetapi umumnya disertai gangguan komunikasi sosial, kesulitan melakukan interaksi dua arah, perilaku repetitif, dan minat yang terbatas. Sebaliknya, anak ADHD biasanya memiliki kemampuan komunikasi sosial yang relatif baik dan ingin berinteraksi dengan teman, tetapi mengalami kesulitan mengendalikan perhatian dan impulsivitas. Selain ASD, gangguan belajar spesifik, gangguan bahasa, gangguan intelektual, gangguan kecemasan, gangguan tidur, hingga epilepsi tertentu juga perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.

Dokter juga perlu mengevaluasi kemungkinan adanya kondisi medis yang dapat memperburuk gangguan perhatian dan perilaku. Gangguan tidur, anemia defisiensi besi, penyakit tiroid, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, nyeri kronis, infeksi berulang, maupun efek samping obat tertentu dapat menyebabkan anak tampak lebih gelisah, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan kemampuan belajar. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh merupakan bagian penting dari proses diagnostik.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian menunjukkan bahwa gangguan saluran cerna juga dapat memengaruhi fungsi otak melalui mekanisme gut–brain axis, yaitu komunikasi dua arah antara sistem saraf pusat dan saluran cerna yang melibatkan sistem saraf enterik, mikrobiota usus, sistem imun, hormon, dan berbagai mediator inflamasi. Konstipasi kronis, nyeri perut, refluks gastroesofageal, maupun Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) dapat menyebabkan gangguan tidur, meningkatkan iritabilitas, dan memperburuk kemampuan perhatian pada sebagian anak. Meskipun kondisi tersebut bukan penyebab utama ADHD, keberadaannya dapat memperberat gejala sehingga perlu dikenali dan ditangani.

Apabila diagnosis ADHD telah ditegakkan, tata laksana yang direkomendasikan berbagai pedoman internasional adalah pendekatan multimodal. Penanganan meliputi edukasi keluarga, pelatihan orang tua (behavioral parent training), modifikasi perilaku di rumah dan sekolah, intervensi pendidikan, terapi psikologis sesuai kebutuhan, serta pemberian obat pada anak dengan indikasi yang jelas. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan belajar, regulasi emosi, keterampilan sosial, serta kualitas hidup anak dan keluarganya, bukan sekadar mengurangi aktivitas fisik anak.

Kesimpulannya, tidak semua anak yang sangat aktif pasti mengalami ADHD, tetapi hiperaktivitas yang menetap, disertai gangguan perhatian dan impulsivitas yang mengganggu fungsi sehari-hari juga tidak boleh dianggap sebagai sifat bawaan atau sekadar “anak laki-laki memang aktif”. Diagnosis harus ditegakkan melalui evaluasi yang komprehensif untuk membedakan ADHD dengan variasi perkembangan normal, gangguan spektrum autisme, gangguan belajar, gangguan tidur, maupun berbagai kondisi medis lain. Deteksi dan intervensi sejak dini memberikan peluang terbaik bagi anak untuk mencapai perkembangan akademik, sosial, dan emosional yang optimal.

Tabel Perbedaan Anak Aktif Normal, ADHD, dan Gangguan Spektrum Autisme (ASD)

AspekAnak Aktif NormalADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD)
Aktivitas fisikAktif sesuai usia, dapat berhenti bila dimintaSangat aktif hampir sepanjang waktu, sulit mengendalikan gerakanDapat aktif atau justru pasif; sebagian anak tampak hiperaktif
Kemampuan duduk tenangMampu duduk saat makan, mendengar cerita, atau belajar sesuai usiaSangat sulit duduk diam meskipun diminta berulang kaliDapat duduk lama bila tertarik pada aktivitas tertentu, tetapi sulit pada aktivitas sosial
PerhatianDapat fokus pada permainan atau cerita yang disukai selama beberapa menit sesuai usiaSangat mudah teralihkan, sulit mempertahankan perhatian pada hampir semua aktivitasFokus sangat baik pada minat tertentu, tetapi kurang memperhatikan interaksi sosial
Mengikuti instruksiUmumnya mampu mengikuti instruksi sederhanaSering gagal mengikuti instruksi karena perhatian mudah teralihSulit mengikuti instruksi terutama bila melibatkan komunikasi sosial atau bahasa
ImpulsivitasKadang spontan sesuai usiaSangat impulsif, sering bertindak tanpa berpikir, sulit menunggu giliranDapat impulsif, tetapi biasanya bukan gejala utama
Kontrol emosiTantrum berkurang sesuai bertambahnya usiaMudah frustrasi, cepat marah, sulit mengendalikan emosiTantrum sering dipicu perubahan rutinitas, gangguan sensorik, atau kesulitan berkomunikasi
Interaksi sosialSenang bermain bersama teman dan berbagi mainanIngin bermain dengan teman tetapi sering mengganggu karena impulsifKesulitan membangun interaksi sosial dua arah, lebih senang bermain sendiri
Kontak mataNormalUmumnya normalSering berkurang atau tidak konsisten
Respons saat dipanggilMenoleh ketika dipanggilMendengar tetapi sering tidak merespons karena perhatian teralihkanKadang tampak tidak menoleh meskipun pendengaran normal karena gangguan perhatian sosial
Komunikasi verbalSesuai usiaUmumnya sesuai usia, tetapi sering memotong pembicaraanDapat terlambat bicara, menggunakan bahasa berulang (echolalia), atau komunikasi tidak sesuai konteks
Komunikasi nonverbalMenggunakan ekspresi wajah, menunjuk, dan kontak mata dengan baikUmumnya normalSering mengalami gangguan ekspresi wajah, gestur, dan berbagi perhatian (joint attention)
PermainanBermain imajinatif sesuai usiaCepat bosan dan sering berpindah permainanCenderung memainkan benda dengan cara berulang atau tidak fungsional
Minat khususBeragam dan mudah berubahTidak khasMemiliki minat yang sangat terbatas tetapi intens terhadap topik tertentu
Perilaku berulangTidak menetapTidak khasSangat khas, seperti mengepakkan tangan, memutar benda, menyusun mainan berulang, atau berjalan berjinjit
Sensitivitas sensorikNormalKadang ada, tetapi ringanSangat sering, misalnya sensitif terhadap suara, cahaya, tekstur makanan, atau sentuhan
RutinitasMudah menyesuaikan perubahanUmumnya dapat beradaptasiSangat menyukai rutinitas dan sering marah bila terjadi perubahan
Prestasi belajarSesuai kemampuanTerganggu terutama karena gangguan perhatianDapat sangat baik atau sangat kurang tergantung kemampuan intelektual dan komunikasi
Gangguan tidurKadang terjadiLebih sering mengalami kesulitan tidurSangat sering disertai gangguan tidur dan gangguan regulasi sensorik
Gangguan makanVariatif sesuai usiaTidak khasSangat sering mengalami food selectivity atau pilih-pilih makanan
Usia mulai tampakSesuai perkembangan normalBiasanya sebelum usia 12 tahun, sering mulai tampak pada usia prasekolahUmumnya sebelum usia 2–3 tahun
Penyebab utamaVariasi perkembangan normalGangguan neurodevelopmental dengan disfungsi regulasi perhatian dan kontrol impulsGangguan neurodevelopmental yang memengaruhi komunikasi sosial dan perilaku repetitif
DiagnosisTidak memerlukan diagnosis khususBerdasarkan kriteria DSM-5-TR atau ICD-11 setelah evaluasi menyeluruhBerdasarkan DSM-5-TR atau ICD-11 dengan evaluasi perkembangan komprehensif
Penanganan utamaEdukasi dan stimulasi sesuai usiaEdukasi keluarga, parent training, terapi perilaku, dukungan sekolah, dan obat bila diperlukanIntervensi dini, terapi wicara, terapi okupasi, terapi perilaku, pendidikan khusus, dan penanganan komorbid

Pesan Penting

  • Anak aktif normal masih dapat mengendalikan perilakunya sesuai situasi dan tidak mengalami gangguan bermakna dalam fungsi sehari-hari.
  • Anak dengan ADHD umumnya memiliki keinginan untuk berinteraksi sosial, tetapi sulit mengendalikan perhatian, aktivitas, dan impuls sehingga sering mengalami masalah di rumah maupun sekolah.
  • Anak dengan autisme memiliki gangguan utama pada komunikasi sosial dan interaksi, disertai perilaku atau minat yang berulang dan terbatas. Sebagian anak autisme juga mengalami hiperaktivitas sehingga dapat tampak mirip ADHD.
  • ADHD dan autisme dapat terjadi bersamaan. Penelitian menunjukkan sekitar 30–70% anak dengan autisme juga memiliki gejala ADHD, sehingga evaluasi oleh dokter tumbuh kembang atau dokter anak yang berpengalaman sangat penting untuk menentukan diagnosis dan terapi yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *