DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

KONSULTASI DOKTER: Penyebab Adenoid Membesar pada Anak: Benarkah Hanya Karena Debu dan Udara Dingin?

Penyebab Adenoid Membesar pada Anak: Benarkah Hanya Karena Debu dan Udara Dingin? Peran Infeksi Berulang, Rinitis Alergi, Alergi Makanan, dan Inflamasi Kronis

Tanya

Apa penyebab adenoid membesar pada anak? Benarkah penyebabnya hanya karena alergi debu atau udara dingin? Apakah rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, dan alergi makanan juga dapat berperan dalam terjadinya pembesaran adenoid? Bagaimana mekanisme biologisnya, dan bagaimana cara memastikan bahwa alergi makanan memang menjadi faktor yang berkontribusi terhadap inflamasi kronis pada anak?

Jawaban

Pembesaran adenoid (adenoid hypertrophy) merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial, artinya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Meskipun masyarakat sering menganggap adenoid membesar hanya karena alergi debu atau udara dingin, anggapan tersebut terlalu sederhana dan tidak sepenuhnya sesuai dengan bukti ilmiah. Adenoid adalah jaringan limfoid yang merupakan bagian dari sistem imun mukosa (mucosa-associated lymphoid tissue/MALT), sehingga ukurannya sangat dipengaruhi oleh rangsangan imun dan inflamasi yang terjadi berulang atau menetap, baik akibat infeksi maupun reaksi alergi.

Penyebab yang paling sering adalah infeksi saluran napas atas berulang, seperti common cold (pilek), influenza, infeksi adenovirus, rhinovirus, RSV, maupun sinusitis. Setiap episode infeksi akan mengaktifkan sel-sel imun di dalam adenoid. Bila infeksi terjadi berulang, jaringan limfoid mengalami hiperplasia dan hipertrofi sebagai respons terhadap stimulasi antigen yang terus-menerus. Akibatnya, adenoid menjadi semakin besar dan dapat menyumbat jalan napas di belakang hidung.

Selain infeksi, rinitis alergi merupakan salah satu faktor risiko yang paling kuat terhadap pembesaran adenoid. Reaksi alergi yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) menyebabkan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, IL-4, IL-5, dan IL-13 yang mengakibatkan edema mukosa, produksi lendir berlebihan, dan infiltrasi sel eosinofil. Peradangan kronis tersebut tidak hanya terjadi pada rongga hidung, tetapi juga melibatkan jaringan adenoid sehingga menyebabkan hipertrofi. Oleh karena itu, pada banyak anak, pembesaran adenoid bukan sekadar akibat paparan debu atau udara dingin, melainkan akibat inflamasi alergi yang berlangsung terus-menerus.

Perlu dipahami bahwa debu dan udara dingin bukanlah penyebab utama adenoid membesar. Debu hanya menjadi masalah apabila mengandung alergen, misalnya tungau debu rumah (house dust mite), yang memang dapat memicu rinitis alergi pada anak yang telah tersensitisasi. Demikian pula udara dingin umumnya hanya bertindak sebagai pemicu (trigger) yang memperberat gejala hidung pada individu tertentu, bukan sebagai penyebab pembesaran adenoid itu sendiri. Dengan kata lain, yang menyebabkan adenoid membesar adalah proses inflamasi kronis, bukan paparan udara dingin secara langsung.

Pada sebagian anak, alergi makanan juga diduga dapat berkontribusi terhadap pembesaran adenoid, meskipun mekanismenya umumnya tidak langsung dan tidak terjadi pada semua anak. Alergi makanan dapat menimbulkan inflamasi kronis pada saluran cerna dan memengaruhi regulasi sistem imun mukosa melalui konsep gut–lung axis, yaitu hubungan biologis antara usus, mikrobiota, dan saluran napas. Inflamasi yang berlangsung lama dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas atas berulang atau memperberat rinitis alergi, sehingga jaringan adenoid terus mengalami stimulasi imun dan akhirnya membesar. Namun, bukti ilmiah mengenai hubungan langsung alergi makanan dengan hipertrofi adenoid masih berkembang, sehingga evaluasi harus dilakukan secara individual.

Karena itu, diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya berdasarkan dugaan, pengalaman sehari-hari, food diary, atau hasil tes IgE maupun skin prick test (SPT). Tes tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu berarti anak benar-benar mengalami alergi yang bermakna secara klinis. Hingga saat ini, Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan secara terkontrol oleh dokter merupakan gold standard untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan reaksi alergi. Eliminasi makanan tanpa konfirmasi diagnosis dapat menyebabkan pembatasan diet yang tidak diperlukan dan berisiko mengganggu status gizi anak.

Selain infeksi dan alergi, faktor lain yang dapat memengaruhi pembesaran adenoid meliputi paparan asap rokok, polusi udara, refluks gastroesofageal (GERD), kelainan anatomi saluran napas, gangguan mikrobiota, faktor genetik, serta usia anak. Adenoid secara fisiologis memang mencapai ukuran terbesar pada usia sekitar 3–7 tahun sebelum perlahan mengecil pada masa remaja. Oleh karena itu, pembesaran adenoid sering kali merupakan hasil interaksi berbagai faktor, bukan disebabkan oleh satu penyebab tunggal.

Kesimpulannya, pembesaran adenoid bukan hanya disebabkan oleh alergi debu atau udara dingin. Penyebab utamanya adalah inflamasi kronis akibat infeksi saluran napas berulang, rinitis alergi, serta berbagai faktor imunologis lainnya. Pada sebagian anak, alergi makanan yang telah dipastikan melalui Oral Food Challenge (OFC) dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi secara tidak langsung dengan meningkatkan inflamasi dan kerentanan terhadap rinitis atau infeksi saluran napas berulang. Oleh karena itu, penanganan adenoid yang optimal tidak hanya berfokus pada mengatasi sumbatan jalan napas, tetapi juga mengidentifikasi dan mengendalikan faktor penyebab inflamasi secara komprehensif berdasarkan evaluasi klinis dan bukti ilmiah yang tepat.

Referensi

  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.
  • Ciprandi G, Martelli A, Tosca M Do Foods Cause Rhinitis? The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 2024; 12, 1484-1486
  • Yonis MA, Ibrahim MA, Farag FK, El Shennawy AM. Relationship between adenoidal hypertrophy and allergic rhinitis in children. Egypt J Hosp Med. 2019;74(1):94-102.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *