
Abstrak
Retardasi Pertumbuhan Intrauterin (Intrauterine Growth Restriction/IUGR) adalah kondisi di mana janin tidak tumbuh sesuai usia kehamilan, sehingga lahir dengan berat badan di bawah persentil ke-10. IUGR menjadi salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya stunting, gangguan perkembangan kognitif, dan berbagai penyakit kronis di masa depan. Artikel ini mengupas secara sistematis penyebab utama IUGR, termasuk gizi ibu yang buruk, anemia, serta infeksi selama kehamilan. Ditekankan pula gejala klinis yang dapat dikenali, strategi penanganan multidisipliner, serta langkah-langkah pencegahan yang menitikberatkan pada pemantauan kehamilan dan intervensi gizi ibu. Kesadaran dini terhadap risiko dan deteksi IUGR sangat penting untuk meminimalkan dampak jangka panjang pada tumbuh kembang anak.

Retardasi Pertumbuhan Intrauterin atau Intrauterine Growth Restriction (IUGR) merupakan kondisi serius yang dialami oleh janin saat masih dalam kandungan, di mana kecepatan pertumbuhannya lebih lambat dibanding janin normal pada usia kehamilan yang sama. Akibatnya, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), bahkan dapat mengalami gangguan fungsi organ sejak lahir. IUGR sering kali tidak terdiagnosis hingga mendekati atau saat kelahiran, namun dampaknya bisa berlangsung hingga usia dewasa.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang berinteraksi kompleks, baik dari sisi ibu, plasenta, maupun janin itu sendiri. Salah satu dampak jangka panjang dari IUGR adalah risiko tinggi terjadinya stunting, gangguan kognitif, dan penyakit metabolik. Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh mengenai penyebab, tanda-tanda awal, serta pencegahan dan intervensi yang tepat sangat penting untuk mendukung kelahiran generasi sehat dan berkualitas.
Penyebab IUGR
- Penyebab IUGR sangat erat kaitannya dengan kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan. Faktor nutrisi memegang peranan sentral, di mana kekurangan asupan gizi makro maupun mikro akan mengganggu suplai energi dan zat penting yang dibutuhkan janin. Gizi buruk, anemia berat, serta defisiensi zat besi, asam folat, seng, dan yodium mengakibatkan terbatasnya pasokan oksigen dan nutrien ke dalam plasenta. Hal ini membuat pertumbuhan janin terhambat meskipun usia kehamilan sudah sesuai. Selain itu, pola makan tidak seimbang atau tidak tercukupi juga memperburuk kondisi tersebut.
- Penyakit kronis yang diderita ibu sebelum atau selama kehamilan turut menjadi penyebab utama IUGR. Hipertensi, diabetes mellitus, penyakit ginjal kronis, gangguan jantung, hingga penyakit autoimun seperti lupus dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke rahim dan plasenta. Tekanan darah tinggi misalnya, menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menghambat pengiriman oksigen ke janin. Begitu pula diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan gangguan metabolik pada janin dan pertumbuhan tidak optimal.
- Infeksi selama kehamilan juga merupakan faktor signifikan yang menyebabkan IUGR. Infeksi seperti toksoplasmosis, rubella, cytomegalovirus (CMV), herpes simplex, serta sifilis dapat merusak jaringan plasenta atau langsung menyerang organ janin. Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu, bahkan berisiko lahir dengan cacat bawaan. Infeksi TORCH (Toxoplasma, Others, Rubella, CMV, Herpes) sangat diwaspadai selama masa kehamilan karena dapat terjadi tanpa gejala pada ibu namun berdampak serius bagi janin.
- Kondisi plasenta juga memainkan peranan penting dalam kejadian IUGR. Kelainan seperti insufisiensi plasenta, di mana plasenta tidak mampu memberikan cukup nutrisi dan oksigen ke janin, menjadi penyebab langsung terganggunya pertumbuhan intrauterin. Selain itu, plasenta yang menua dini atau mengalami pengapuran (kalsifikasi) juga akan kehilangan fungsinya sebelum waktunya. Gangguan pembentukan tali pusat atau implantasi abnormal dari plasenta pada dinding rahim turut menghambat pertumbuhan janin.
- Faktor eksternal seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, serta kehamilan kembar juga berkontribusi pada peningkatan risiko IUGR. Nikotin dari rokok menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga mengurangi aliran darah ke plasenta. Alkohol dan obat-obatan terlarang bersifat toksik bagi sel-sel janin dan menghambat perkembangan jaringan tubuh. Pada kehamilan kembar, suplai nutrisi harus dibagi untuk dua atau lebih janin, sehingga salah satu atau keduanya berisiko mengalami keterlambatan pertumbuhan jika tidak dimonitor secara ketat.
Tanda dan Gejala IUGR
- Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Tanda paling nyata dari IUGR adalah berat badan lahir yang berada di bawah persentil ke-10 untuk usia kehamilan. Bayi tampak kecil dan kurus, dengan massa lemak tubuh yang minim. - Lingkar Kepala Normal, Tubuh Lebih Kecil (IUGR Asimetris)
Pada jenis IUGR asimetris, lingkar kepala bayi tetap sesuai usia kehamilan, namun ukuran perut dan tubuh lebih kecil. Ini menandakan janin mengalami kekurangan nutrisi di trimester akhir. - Proporsi Tubuh Tidak Seimbang (IUGR Simetris)
Pada IUGR simetris, seluruh tubuh bayi – termasuk kepala – berukuran kecil dan proporsional. Biasanya terjadi sejak awal kehamilan dan mengindikasikan kelainan kromosom atau infeksi kongenital. - Penurunan Gerakan Janin
Ibu hamil sering mengeluhkan berkurangnya aktivitas janin di dalam rahim. Ini bisa menjadi indikasi bahwa janin dalam kondisi stres akibat kekurangan oksigen dan nutrisi. - Volume Air Ketuban Berkurang (Oligohidramnion)
USG bisa menunjukkan penurunan volume cairan ketuban yang berfungsi sebagai pelindung janin. Oligohidramnion sering berkaitan dengan IUGR karena berkurangnya perfusi plasenta. - Denyut Jantung Janin Abnormal
Pemeriksaan detak jantung janin menunjukkan adanya bradikardia (detak lambat) atau takikardia (detak cepat), menandakan adanya gangguan perfusi darah dan stres janin. - Plasenta Kecil atau Mengapur Dini
Plasenta yang terlalu kecil atau mengalami pengapuran (kalsifikasi) dini mengganggu suplai nutrisi dan oksigen ke janin. Ini bisa terdeteksi melalui USG prenatal. - Pertumbuhan Janin Tidak Sesuai Usia Kehamilan (via USG)
Pemantauan rutin melalui USG dapat mendeteksi bahwa lingkar kepala, panjang femur, atau lingkar perut janin tidak meningkat sebagaimana mestinya seiring pertambahan usia kehamilan.
Penanganan
- Penanganan IUGR membutuhkan pendekatan intensif dan kolaboratif antara dokter kandungan, ahli gizi, dan dokter anak neonatologi. Tujuan utama penanganan adalah memperpanjang masa kehamilan tanpa mengorbankan keselamatan ibu dan janin. Pemantauan ketat terhadap pertumbuhan janin dan kondisi ibu sangat penting untuk menentukan waktu persalinan yang ideal.
- Intervensi gizi pada ibu hamil menjadi kunci penting, termasuk suplementasi zat besi, asam folat, dan protein. Dalam beberapa kasus, ibu dianjurkan menjalani tirah baring (bed rest) untuk meningkatkan aliran darah ke plasenta. Jika ditemukan infeksi, maka pengobatan spesifik seperti antibiotik atau antivirus diperlukan.
- Apabila kondisi janin memburuk atau menunjukkan tanda-tanda distres, persalinan dini bisa menjadi pilihan dengan risiko yang dihitung. Bayi yang lahir dengan IUGR sering memerlukan perawatan intensif neonatal (NICU) untuk mengatasi hipotermia, hipoglikemia, dan gangguan napas.
- Setelah kelahiran, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara ketat harus dilakukan. Beberapa bayi dengan IUGR dapat mengejar pertumbuhan jika diberi stimulasi, nutrisi optimal, dan perhatian medis sejak dini.
Pencegahan
- Pencegahan IUGR dimulai sejak sebelum kehamilan, yaitu dengan memastikan calon ibu berada dalam kondisi gizi yang baik dan bebas dari anemia. Skrining awal penyakit kronis dan infeksi TORCH juga dapat membantu mengurangi risiko.
- Selama kehamilan, pemeriksaan antenatal rutin dan pemantauan pertumbuhan janin melalui USG sangat penting untuk deteksi dini. Ibu harus mendapatkan edukasi mengenai pola makan seimbang, istirahat cukup, dan penghindaran stres.
- Pemberian suplemen zat besi, kalsium, dan asam folat selama kehamilan secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan berkontribusi besar terhadap pencegahan IUGR. Pencegahan juga mencakup larangan keras merokok, mengonsumsi alkohol, dan penggunaan obat tanpa resep selama kehamilan.
- Ibu hamil dengan riwayat kehamilan risiko tinggi, seperti hipertensi atau kehamilan sebelumnya dengan IUGR, harus ditangani oleh tenaga kesehatan yang kompeten di fasilitas yang lengkap. Deteksi dan intervensi dini menjadi pilar utama pencegahan komplikasi akibat IUGR.
Saran
- Pertama, para tenaga kesehatan perlu meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi dini tanda-tanda IUGR selama kehamilan, termasuk melalui pelatihan dan pembaruan standar pelayanan antenatal. Pemeriksaan rutin USG dengan interpretasi terlatih menjadi penting untuk menghindari keterlambatan diagnosis.
- Kedua, edukasi masyarakat mengenai pentingnya gizi ibu hamil dan pemeriksaan kehamilan rutin harus digalakkan. Kampanye tentang bahaya anemia dan pentingnya suplemen kehamilan harus terus digencarkan, terutama di daerah dengan angka BBLR tinggi.
- Ketiga, kebijakan publik perlu memperkuat akses terhadap layanan kesehatan ibu dan anak, terutama di daerah terpencil. Program bantuan gizi, skrining infeksi, dan pelayanan prenatal berkualitas merupakan langkah strategis yang berdampak langsung dalam menurunkan prevalensi IUGR.
Kesimpulan
Retardasi Pertumbuhan Intrauterin merupakan masalah serius dalam dunia kesehatan ibu dan anak karena dampaknya yang luas terhadap kehidupan jangka panjang seorang anak. Faktor penyebab IUGR sangat beragam, mulai dari gizi buruk, infeksi, hingga gangguan sirkulasi plasenta. Deteksi dini, intervensi gizi ibu, dan pemantauan janin secara berkala menjadi kunci penanganan. IUGR bukan hanya masalah medis, tetapi juga persoalan sosial dan kebijakan. Dengan sinergi antara keluarga, tenaga medis, dan pemerintah, risiko IUGR dapat diminimalkan demi menyelamatkan generasi mendatang dari risiko stunting dan gangguan perkembangan.














Leave a Reply