DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Hubungan Antara Alergi Makanan dan Penyakit Autoimun: Kajian Imunopatofisiologi

Hubungan Antara Alergi Makanan dan Penyakit Autoimun: Kajian Imunopatofisiologi


Abstrak

Penyakit autoimun dan alergi makanan merupakan dua kondisi yang melibatkan disregulasi sistem imun, namun dengan mekanisme patofisiologi yang berbeda. Alergi makanan muncul sebagai respon imun hipersensitivitas tipe I terhadap protein makanan, sedangkan penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Meskipun berbeda secara klasik, penelitian terkini menunjukkan adanya hubungan antara keduanya, terutama melalui aktivasi interleukin dan sel-sel imun seperti sel T CD4+, sel Th1, Th2, dan Th17. Jalur inflamasi kronik, peningkatan permeabilitas usus, serta disregulasi interleukin seperti IL-4, IL-5, IL-17, dan IL-10 dapat menjadi jembatan antara alergi makanan dan perkembangan penyakit autoimun seperti diabetes tipe 1, penyakit celiac, dan tiroiditis autoimun. Artikel ini membahas keterkaitan imunopatofisiologis antara kedua kondisi dan implikasi klinisnya dalam manajemen pasien.


Alergi makanan adalah suatu kondisi imunologis yang ditandai oleh reaksi berlebihan terhadap protein makanan tertentu, umumnya dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE). Respon ini melibatkan sel mast, eosinofil, dan produksi interleukin tipe Th2, yang menyebabkan gejala mulai dari ringan (gatal, ruam) hingga berat (anafilaksis). Sementara itu, penyakit autoimun melibatkan aktivasi sistem imun yang menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri, dengan manifestasi bervariasi tergantung organ target.

Secara historis, alergi makanan dan autoimun dianggap sebagai entitas klinis yang terpisah. Namun, bukti terbaru menunjukkan adanya hubungan antara gangguan toleransi imun terhadap makanan dan risiko pengembangan penyakit autoimun. Kelemahan sawar mukosa usus, aktivasi interleukin proinflamasi, dan ketidakseimbangan respon Th1/Th2/Th17 berkontribusi terhadap proses autoimunitas yang diperparah oleh konsumsi makanan tertentu.


Tanda dan Gejala

Gejala alergi makanan biasanya muncul segera setelah konsumsi makanan tertentu, seperti susu sapi, telur, kacang-kacangan, atau makanan laut. Gejala dapat berupa ruam kulit, gatal, mual, muntah, diare, hingga reaksi sistemik seperti syok anafilaksis. Pada sebagian pasien, gejala dapat menetap dalam bentuk reaksi lambat seperti eksim atau kolik.

Pada kasus autoimun, gejala tergantung pada organ yang diserang. Penyakit seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan diabetes tipe 1 menunjukkan gejala seperti nyeri sendi, kelelahan, demam, dan perubahan metabolik. Celiac disease yang berkaitan langsung dengan makanan menyebabkan gangguan penyerapan di usus, diare kronis, dan malnutrisi.

Beberapa anak atau dewasa dengan alergi makanan juga menunjukkan gejala sistemik yang menyerupai kondisi autoimun ringan seperti ruam yang tidak membaik dengan antihistamin, nyeri otot, atau nyeri sendi yang tidak jelas. Ini mengindikasikan adanya aktivasi imun kronis yang perlu dievaluasi lebih lanjut untuk kemungkinan keterlibatan autoimunitas.


Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan

Sistem imun normalnya dapat membedakan antara zat asing yang berbahaya dan tidak berbahaya. Pada alergi makanan, terjadi kegagalan toleransi oral yang menyebabkan aktivasi sel T CD4+ menjadi subset Th2, yang memicu produksi IgE oleh sel B dan aktivasi sel mast. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin dan mediator lain yang menyebabkan gejala alergi.

Sementara itu, dalam autoimun, aktivasi sel T CD4+ justru mengarah ke jalur Th1 atau Th17. Sel-sel ini menghasilkan sitokin seperti IFN-γ, TNF-α, dan IL-17, yang menyebabkan peradangan kronik dan destruksi jaringan. Salah satu pencetusnya adalah mimikri molekuler, di mana protein makanan menyerupai protein tubuh sendiri, memicu autoimunitas.

Usus menjadi tempat penting dalam regulasi imun karena merupakan organ terbesar yang terpapar antigen makanan. Disbiosis mikrobiota usus dan peningkatan permeabilitas mukosa (“leaky gut”) memungkinkan alergen dan peptida asing masuk ke sirkulasi dan merangsang sistem imun secara sistemik, termasuk pembentukan autoantibodi.

Pada individu genetik yang rentan, alergen makanan seperti gluten, kasein, atau protein kacang dapat memicu aktivasi sel T autoreaktif. Reaksi ini bisa menjalar dari hipersensitivitas sederhana menjadi gangguan autoimun jika proses inflamasi tidak terkontrol dan sistem imun tidak dapat mengembalikan toleransi.

Adanya inflamasi sistemik berkepanjangan menyebabkan aktivasi mikroglia (di otak), disfungsi tiroid, atau kerusakan sel beta pankreas. Hal ini menjelaskan hubungan antara alergi makanan dengan kondisi autoimun seperti multiple sclerosis, tiroiditis Hashimoto, dan diabetes tipe 1.


Imunopatofisiologi

  • IL-4 adalah interleukin khas dari respon Th2 yang sangat dominan dalam alergi makanan. IL-4 mendorong produksi IgE oleh sel B dan berperan penting dalam aktivasi sel mast dan eosinofil. Produksi IL-4 berlebihan dapat menyebabkan disregulasi imun jangka panjang.
  • IL-5 juga berasal dari jalur Th2 dan bertanggung jawab untuk rekrutmen dan aktivasi eosinofil. Eosinofil melepaskan protein sitotoksik yang merusak epitel usus, memperparah peradangan, dan berpotensi memicu reaksi sistemik yang dapat berlanjut ke autoimunitas.
  • IL-13 bekerja sinergis dengan IL-4 dalam meningkatkan permeabilitas usus dan mengganggu toleransi oral. Gangguan toleransi ini memungkinkan translokasi antigen yang dapat memicu respon autoimun di organ target yang jauh dari usus.
  • IL-17 diproduksi oleh sel Th17 dan memainkan peran penting dalam penyakit autoimun seperti psoriasis, rheumatoid arthritis, dan multiple sclerosis. IL-17 meningkatkan ekspresi molekul adhesi dan kemotaksis leukosit, memperburuk kerusakan jaringan.
  • IL-10, sebagai interleukin antiinflamasi, diproduksi oleh sel T regulator dan bertugas menekan respon proinflamasi. Defisiensi atau disregulasi IL-10 menyebabkan sistem imun menjadi hiperaktif dan gagal mempertahankan toleransi terhadap antigen makanan atau self-antigen.
  • TNF-α adalah mediator sentral dari inflamasi kronik dan berperan dalam memperburuk kerusakan jaringan pada penyakit autoimun. TNF-α juga menyebabkan disfungsi sawar mukosa dan meningkatkan kerentanan terhadap antigen makanan, menciptakan hubungan dua arah antara alergi dan autoimunitas.

Alergi Makanan dan Autoimun

  • Respon imun yang awalnya ditujukan terhadap alergen makanan dapat berkembang menjadi reaksi autoimun jika inflamasi tidak dikendalikan. Aktivasi Th2 dalam alergi makanan dapat memicu kondisi proinflamasi sistemik yang membuka peluang munculnya respon Th1 dan Th17.
  • IL-4 dan IL-13, yang dominan dalam alergi makanan, menyebabkan gangguan toleransi oral dan memperlemah mekanisme proteksi mukosa usus. Hal ini membuat tubuh lebih rentan terhadap translokasi antigen dan aktivasi sel T autoreaktif.
  • Protein makanan tertentu, seperti gluten dan kasein, memiliki struktur yang menyerupai protein endogen. Ini memungkinkan fenomena mimikri molekuler, yang memicu sel T mengenali jaringan tubuh sebagai asing dan menyerangnya, terutama pada individu dengan HLA tipe tertentu.
  • Peran IL-17 dalam merusak jaringan melalui aktivasi neutrofil dan kemokin inflamasi menunjukkan bahwa jalur alergi makanan dapat bertransformasi ke jalur autoimun, terutama jika disertai faktor genetik atau lingkungan seperti infeksi virus.
  • Penguatan sistem imun tolerogenik melalui IL-10 atau pendekatan nutrisi berbasis eliminasi makanan telah terbukti menurunkan kejadian eksaserbasi autoimun. Ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan interleukin dalam pencegahan dan terapi penyakit yang terkait.

Tabel Peran Interleukin dalam Autoimun dan Alergi Makanan

InterleukinSumber SelulerPeran ImunologisDampak Klinis
IL-4Sel Th2Induksi IgE, aktivasi sel mastAlergi makanan, potensi gangguan toleransi
IL-5Sel Th2Aktivasi eosinofil, kerusakan mukosaPeradangan usus, risiko transisi ke autoimun
IL-13Sel Th2Permeabilitas usus, penurunan toleransi oralUsus bocor, mimikri molekuler
IL-17Sel Th17Peradangan jaringan, rekrutmen neutrofilAutoimun kronik (RA, MS, Celiac)
IL-10Sel T regulatorPenekan sitokin proinflamasiProtektif, namun rendah pada pasien alergi + autoimun
TNF-αMakrofag, sel TDisfungsi sawar mukosa, inflamasi kronikPerburukan kerusakan jaringan dan autoimunitas sistemik

Kesimpulan

Alergi makanan dan penyakit autoimun memiliki keterkaitan yang lebih erat dari yang diperkirakan sebelumnya. Peran interleukin dalam kedua kondisi menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana respon imun bisa berubah dari pertahanan terhadap alergen menjadi perusakan jaringan tubuh sendiri. Interleukin seperti IL-4, IL-5, IL-13, IL-17, dan TNF-α merupakan faktor utama dalam transisi dari alergi ke autoimunitas, terutama pada individu yang rentan. Pemahaman ini membuka peluang intervensi dini berbasis imunomodulasi dan pengelolaan nutrisi untuk mencegah perkembangan penyakit autoimun pada pasien dengan alergi makanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *