
Gangguan Tiroid (Hipotiroidisme dan Hipertiroidisme) pada Anak: Tinjauan Sistematis
Abstrak
Gangguan tiroid merupakan kelainan endokrin yang sering ditemukan pada anak, mencakup hipotiroidisme dan hipertiroidisme. Kondisi ini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan, perkembangan otak, serta metabolisme tubuh anak. Hipotiroidisme dapat bersifat kongenital maupun didapat, sedangkan hipertiroidisme biasanya terkait penyakit autoimun seperti penyakit Graves. Diagnosis dini dan pengobatan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti keterlambatan perkembangan dan gangguan kardiovaskular. Artikel ini membahas penyebab, tanda dan gejala, diagnosis, diagnosis banding, penanganan, serta prognosis gangguan tiroid pada anak.
Gangguan tiroid pada anak merupakan salah satu masalah endokrinologi yang penting karena berperan langsung terhadap laju metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan organ vital terutama otak. Hipotiroidisme terjadi akibat kekurangan hormon tiroid (T3 dan T4), sedangkan hipertiroidisme disebabkan oleh kelebihan hormon tersebut. Perubahan kadar hormon tiroid dapat mengganggu proses diferensiasi sel saraf, perkembangan tulang, serta metabolisme energi.
Secara global, gangguan tiroid pada anak menunjukkan peningkatan prevalensi, terutama yang bersifat autoimun. Deteksi dini melalui skrining neonatal dan pemeriksaan fungsi tiroid pada anak berisiko tinggi menjadi langkah penting untuk pencegahan komplikasi. Penanganan yang optimal memerlukan kolaborasi multidisiplin antara dokter anak, endokrinolog, dan nutrisionis.
Penyebab
- Hipotiroidisme pada anak dapat bersifat kongenital (bawaan) atau didapat. Bentuk kongenital umumnya disebabkan oleh disgenesis tiroid (agenesis, hipoplasia, atau ektopia), sedangkan bentuk didapat sering kali akibat tiroiditis Hashimoto yang merupakan penyakit autoimun. Faktor lain termasuk defisiensi yodium, pengaruh obat antitiroid, atau gangguan hipotalamus-hipofisis.
- Hipertiroidisme pada anak umumnya disebabkan oleh penyakit Graves, suatu kondisi autoimun di mana antibodi merangsang reseptor TSH secara berlebihan. Faktor genetik dan lingkungan seperti stres, infeksi virus, serta pajanan zat kimia tertentu juga dapat memicu disfungsi tiroid.
Tanda dan Gejala
- Hipotiroidisme pada anak sering kali muncul dengan gejala nonspesifik dan berkembang perlahan. Gejala khas meliputi pertumbuhan terhambat, wajah bengkak, kulit kering, rambut rontok, konstipasi, serta retardasi mental pada bentuk kongenital yang tidak terdeteksi dini. Pada bayi, tanda dapat berupa ikterus berkepanjangan, lidah besar, dan tangisan serak.
- Pada anak yang lebih besar, hipotiroidisme menyebabkan penurunan performa sekolah, kelelahan, intoleransi dingin, serta pubertas yang terlambat. Anak dapat tampak apatis dan mengalami penambahan berat badan meskipun nafsu makan menurun.
- Sebaliknya, hipertiroidisme ditandai dengan percepatan metabolisme tubuh. Gejalanya meliputi penurunan berat badan meskipun nafsu makan meningkat, takikardia, tremor, berkeringat berlebihan, dan mudah cemas. Anak tampak hiperaktif, sulit konsentrasi, serta mengalami gangguan tidur.
- Pada kasus berat, hipertiroidisme dapat menyebabkan krisis tiroid, yaitu kondisi gawat darurat dengan demam tinggi, dehidrasi, dan gangguan kesadaran yang memerlukan perawatan intensif segera.
Diagnosis
- Diagnosis gangguan tiroid pada anak didasarkan pada pemeriksaan klinis dan laboratorium. Pemeriksaan kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dan Free T4 (tiroksin bebas) merupakan dasar utama. Hipotiroidisme ditandai dengan peningkatan TSH dan penurunan T4, sedangkan hipertiroidisme menunjukkan penurunan TSH dan peningkatan T4/T3.
- Pemeriksaan tambahan seperti antibodi antitiroid (anti-TPO, anti-Tg, TRAb) membantu mengidentifikasi etiologi autoimun. USG tiroid digunakan untuk menilai struktur kelenjar, mendeteksi nodul, atau disgenesis.
- Pada kasus kongenital, diagnosis dapat ditegakkan melalui skrining neonatal menggunakan kadar TSH dari darah tumit bayi, yang terbukti menurunkan angka keterlambatan diagnosis hipotiroidisme kongenital secara signifikan.
Diagnosis Banding
- Diagnosis banding hipotiroidisme meliputi retardasi pertumbuhan akibat kekurangan hormon pertumbuhan (GH deficiency) dan sindrom Cushing. Sementara itu, diagnosis banding hipertiroidisme mencakup gangguan kecemasan berat, pheochromocytoma, dan pubertas prekoks yang dapat meniru gejala hiperaktivitas dan takikardia.
- Evaluasi hormonal yang komprehensif, termasuk pemeriksaan TSH, FT4, dan profil endokrin lain, diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan hormonal lain yang menyerupai disfungsi tiroid.
Tabel Penanganan Gangguan Tiroid pada Anak
| Jenis Gangguan | Terapi Utama | Dosis Awal | Monitoring | Tujuan Terapi |
|---|---|---|---|---|
| Hipotiroidisme | Levothyroxine (T4 sintetis) | 10–15 µg/kg/hari (bayi), 4–6 µg/kg/hari (anak) | TSH dan FT4 tiap 4–6 minggu | Normalisasi hormon tiroid, tumbuh kembang optimal |
| Hipertiroidisme | Antitiroid (Methimazole) | 0.2–0.5 mg/kg/hari | TSH, FT4 tiap 2–3 bulan | Kontrol gejala, mencegah krisis tiroid |
| Kasus berat | Beta-blocker (Propranolol) | 1–2 mg/kg/hari | Gejala klinis | Reduksi gejala simpatis dan kardiovaskular |
Penanganan gangguan tiroid pada anak bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan hormon dan mencegah komplikasi jangka panjang. Pada hipotiroidisme, terapi levothyroxine harus diberikan seumur hidup dan disesuaikan berdasarkan usia dan berat badan. Hipertiroidisme memerlukan pemantauan ketat karena risiko efek samping obat, dan pada kasus refrakter dapat dipertimbangkan terapi radioiodin atau pembedahan.
Prognosis
- Prognosis gangguan tiroid pada anak sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan ketepatan terapi. Hipotiroidisme kongenital yang diobati dalam 2 minggu pertama kehidupan memiliki prognosis baik dengan perkembangan intelektual normal.
- Hipotiroidisme yang terlambat diobati dapat menyebabkan keterlambatan mental permanen, pertumbuhan terhambat, serta gangguan pubertas. Sebaliknya, hipertiroidisme yang diobati dengan baik biasanya memiliki prognosis baik, meskipun kekambuhan bisa terjadi setelah penghentian terapi.
- Pemantauan jangka panjang dengan pemeriksaan laboratorium dan evaluasi tumbuh kembang diperlukan untuk menilai efektivitas terapi dan mencegah komplikasi seperti osteoporosis atau gangguan jantung akibat ketidakseimbangan hormon.
Kesimpulan
Gangguan tiroid pada anak, baik hipotiroidisme maupun hipertiroidisme, memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Diagnosis dini melalui skrining dan pemeriksaan hormon tiroid sangat penting untuk mencegah komplikasi permanen. Terapi farmakologis yang tepat dan pemantauan jangka panjang menjadi kunci keberhasilan penanganan. Kolaborasi antara tenaga medis, orang tua, dan ahli gizi dibutuhkan untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal.
Daftar Pustaka
- Léger J, et al. “Congenital hypothyroidism: update and perspectives.” Lancet Diabetes Endocrinol. 2021;9(11):767–779.
- Ross DS, et al. “Management of Graves’ disease in children and adolescents.” J Clin Endocrinol Metab. 2020;105(9):dgz302.
- Rastogi MV, LaFranchi SH. “Thyroid disorders in children and adolescents.” Endocrinol Metab Clin North Am. 2019;48(4):765–781.
- Brown RS. “Autoimmune thyroid disease in children.” J Pediatr Endocrinol Metab. 2021;34(5):575–582.
- Léger J, Olivieri A, Donaldson M, et al. “European Society for Paediatric Endocrinology consensus on congenital hypothyroidism.” Horm Res Paediatr. 2021;95(1):1–14.








Leave a Reply