DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Review Jurnal Ilmiah: Gangguan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE: Tinjauan terhadap Systematic Review Clinical & Experimental Allergy 2026

Review Jurnal Ilmiah: Gangguan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE: Tinjauan terhadap Systematic Review Clinical & Experimental Allergy 2026

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Abstrak

Gangguan makan (feeding difficulties) merupakan masalah yang sering dijumpai pada anak dengan alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE yang sering sulit dikenali. Systematic review yang diterbitkan dalam Clinical & Experimental Allergy tahun 2026 mengevaluasi hubungan antara alergi makanan non-IgE dan feeding difficulties pada anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE, khususnya eosinophilic esophagitis (EoE), memiliki prevalensi gangguan makan yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan evaluasi komprehensif pada anak dengan gangguan makan kronis.

Kata kunci: feeding difficulties, alergi makanan non-IgE, eosinophilic esophagitis, systematic review.

Latar Belakang

Alergi makanan non-IgE sering menimbulkan gejala kronis pada saluran cerna, seperti muntah berulang, nyeri perut, refluks, konstipasi, diare, sulit makan, dan gangguan pertumbuhan. Berbeda dengan alergi IgE, hasil skin prick test maupun IgE spesifik umumnya negatif sehingga diagnosis sering terlambat. Review ini bertujuan menilai apakah anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki risiko feeding difficulties yang lebih tinggi.

Metode

Penelitian menggunakan desain systematic review sesuai pedoman PRISMA 2020 dan terdaftar di PROSPERO (CRD42023458648). Peneliti menelusuri Medline, Embase, Emcare, dan Scopus hingga September 2025. Dari 10.681 artikel yang ditemukan, sebanyak 17 penelitian memenuhi kriteria inklusi. Studi melibatkan anak usia 0 hingga 18 tahun dengan jumlah sampel antara 26 hingga 4.230 peserta.

Hasil

Seluruh penelitian menunjukkan bahwa feeding difficulties lebih sering terjadi pada anak dengan alergi makanan non-IgE, terutama pada EoE. Pada anak usia di bawah lima tahun, gangguan yang paling sering ditemukan adalah sulit makan, menolak makanan padat, makan sangat lama, muntah, dan pertumbuhan yang kurang optimal. Pada anak yang lebih besar, keluhan bergeser menjadi disfagia dan makanan terasa tersangkut di kerongkongan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gejala dapat berlangsung lebih dari enam tahun sebelum diagnosis ditegakkan.

Analisis

  • Systematic review ini memiliki kekuatan metodologis yang baik karena disusun mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 serta telah diregistrasi di PROSPERO sebelum penelitian dilakukan. Registrasi ini bertujuan mengurangi risiko bias pelaporan dan meningkatkan transparansi penelitian. Peneliti melakukan pencarian literatur secara komprehensif pada empat basis data utama, yaitu Medline, Embase, Emcare, dan Scopus, sehingga peluang terlewatnya penelitian yang relevan menjadi lebih kecil. Dari lebih dari 10.000 artikel yang berhasil diidentifikasi, hanya 17 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi setelah melalui proses seleksi yang ketat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kesimpulan yang dihasilkan didasarkan pada proses telaah ilmiah yang sistematis dan bukan hanya pada satu atau dua penelitian individual.
  • Meskipun demikian, review ini juga mengungkapkan bahwa kualitas bukti yang tersedia masih memiliki beberapa keterbatasan. Salah satu kendala utama adalah heterogenitas antarpenelitian. Definisi feeding difficulties tidak seragam, sehingga setiap penelitian dapat memasukkan kelompok pasien yang berbeda. Sebagian studi mendefinisikan feeding difficulties sebagai penolakan makan, sedangkan penelitian lain memasukkan gangguan menelan, perilaku makan selektif, keterlambatan perkembangan kemampuan makan, atau Pediatric Feeding Disorder. Selain itu, metode diagnosis alergi makanan non-IgE juga bervariasi. Ada penelitian yang menggunakan diagnosis klinis, sebagian menggunakan eliminasi dan provokasi makanan, sedangkan pada eosinophilic esophagitis diagnosis ditegakkan melalui endoskopi dan pemeriksaan histopatologi. Perbedaan tersebut menyulitkan perbandingan langsung antarstudi.
  • Variasi juga ditemukan pada instrumen yang digunakan untuk menilai gangguan makan. Sebagian penelitian menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, sedangkan penelitian lainnya hanya mengandalkan laporan orang tua atau penilaian klinis tanpa alat ukur baku. Akibatnya, angka prevalensi feeding difficulties tidak dapat digabungkan menjadi satu estimasi yang benar-benar akurat melalui meta-analisis. Walaupun demikian, hampir seluruh penelitian menunjukkan arah hasil yang konsisten, yaitu anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki risiko lebih tinggi mengalami feeding difficulties dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Konsistensi temuan ini memperkuat dugaan adanya hubungan biologis yang nyata, sekaligus menunjukkan perlunya penelitian prospektif dengan definisi dan instrumen penilaian yang lebih seragam pada masa mendatang.

Implikasi Klinis

  • Hasil systematic review ini memiliki implikasi penting dalam praktik pediatri sehari-hari. Selama ini, anak yang sulit makan sering kali hanya dikategorikan sebagai picky eater atau dianggap mengalami fase perkembangan yang normal. Padahal, pada sebagian anak, gangguan makan merupakan manifestasi awal penyakit organik yang mendasarinya, termasuk alergi makanan non-IgE. Anak yang mengalami sulit makan kronis, makan sangat lama, menolak berbagai jenis makanan, muntah berulang, nyeri saat makan, konstipasi kronis, diare berulang, atau berat badan yang sulit meningkat memerlukan evaluasi yang lebih komprehensif dibandingkan hanya pemberian suplemen penambah nafsu makan.
  • Review ini juga mengingatkan bahwa pemeriksaan alergi konvensional, seperti skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik, tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan alergi makanan non-IgE. Sebagian besar pasien dengan alergi non-IgE memiliki hasil pemeriksaan IgE yang normal karena mekanisme penyakit tidak dimediasi oleh antibodi IgE, melainkan oleh respons imun seluler. Oleh karena itu, diagnosis harus didasarkan pada kombinasi anamnesis yang cermat, evaluasi pola pertumbuhan, penilaian status gizi, identifikasi hubungan gejala dengan makanan tertentu, diet eliminasi yang terarah, oral food challenge pada indikasi yang sesuai, serta pemeriksaan endoskopi dengan biopsi apabila dicurigai eosinophilic esophagitis.
  • Temuan ini juga menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menangani anak dengan feeding difficulties. Dokter anak, dokter alergi-imunologi, gastroenterolog anak, ahli gizi, psikolog, terapis okupasi, dan terapis wicara perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi penyebab gangguan makan dan menentukan tata laksana yang sesuai. Penanganan yang hanya berfokus pada perilaku makan tanpa mengatasi penyakit yang mendasari sering kali memberikan hasil yang kurang optimal. Sebaliknya, identifikasi dini alergi makanan non-IgE dan penatalaksanaan yang tepat dapat memperbaiki gejala saluran cerna, meningkatkan kemampuan makan, mempercepat pertumbuhan, serta memperbaiki kualitas hidup anak dan keluarganya.

Kesimpulan

Systematic review ini memperkuat bukti bahwa alergi makanan non-IgE merupakan salah satu penyebab penting feeding difficulties pada anak. Eosinophilic esophagitis menjadi kondisi yang paling kuat hubungannya dengan gangguan makan. Temuan ini mendukung pentingnya deteksi dini, penggunaan instrumen skrining yang lebih baik, serta pendekatan multidisiplin untuk mencegah gangguan nutrisi dan pertumbuhan pada anak.

Referensi

  • Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026. doi:10.1111/cea.70367.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *