Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Anak: Tinjauan Klinis, Imunopatofisiologi, dan Penanganan
Abstrak
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang secara khusus memiliki tingkat keparahan tinggi pada anak. Anak memiliki risiko lebih besar mengalami kebocoran plasma, syok dengue, perdarahan, dan gangguan organ berat akibat reaksi imun hiperergik terhadap virus dengue. Artikel ini membahas definisi DBD pada anak, imunopatofisiologi, tanda dan gejala klinis, komplikasi, serta pendekatan penanganan termasuk observasi ketat, manajemen cairan (fluid resuscitation), dan pemantauan berkelanjutan. Pengetahuan mendalam mengenai mekanisme imun dan progresi penyakit penting untuk mencegah mortalitas dan mengoptimalkan tatalaksana pada populasi anak.
Pendahuluan
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan utama di negara tropis dan subtropis, terutama di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang menjadi daerah endemis tinggi. Pada anak, infeksi dengue tampak lebih berat karena respons imun yang belum matang, ukuran pembuluh darah lebih kecil, dan kerentanan lebih besar terhadap kebocoran plasma yang menyebabkan syok. Selain itu, variasi serotipe virus dengue serta fenomena antibody-dependent enhancement (ADE) membuat anak lebih mudah mengalami progresi cepat dari demam ke fase kritis.
Selain aspek imun, faktor lingkungan seperti kepadatan penduduk, sanitasi buruk, dan tingginya populasi nyamuk vektor memperbesar risiko penularan. Gangguan klinis pada anak sering kali tidak khas pada awalnya sehingga keterlambatan diagnosis masih sering terjadi. Pemahaman yang baik mengenai perjalanan klinis dan fase penyakit sangat penting agar tenaga kesehatan dapat memberikan tatalaksana yang tepat waktu dan mengurangi risiko komplikasi berat.
Definisi
- DBD pada anak didefinisikan sebagai infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes dan ditandai oleh demam tinggi mendadak, manifestasi perdarahan, kebocoran plasma, dan dapat terjadi gangguan organ. Anak rentan mengalami peningkatan permeabilitas kapiler yang lebih cepat sehingga risiko syok dengue menjadi lebih tinggi dibandingkan populasi dewasa. WHO mengklasifikasikan DBD berdasarkan derajat keparahan dari dengue tanpa tanda bahaya, dengue dengan tanda bahaya, hingga dengue berat.
- Secara klinis, DBD pada anak dapat muncul dengan gejala awal yang tidak spesifik seperti demam, nyeri tubuh, mual, muntah, sakit kepala, dan penurunan nafsu makan. Dalam beberapa kasus, anak dapat tampak masih aktif meski trombosit menurun drastis sehingga pemantauan berkelanjutan menjadi penting. Pada fase kritis, tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, dan gelisah merupakan sinyal awal menuju syok.
- Manifestasi hematologis pada anak juga dapat lebih signifikan, termasuk trombositopenia dan peningkatan hematokrit akibat kebocoran plasma. Selain itu, stimulasi imun berlebihan dapat memicu kerusakan organ seperti hati, ginjal, dan sistem saraf pusat. Oleh karena itu, definisi DBD pada anak tidak hanya berdasarkan hasil laboratorium, namun juga harus dikaitkan dengan dinamika klinis harian selama fase penyakit.
Epidemiologi
- Situasi Global: Lonjakan Kasus Dengue dan Implikasi pada Anak
- Dalam beberapa tahun terakhir, beban DBD global meningkat dramatis — kasus yang dilaporkan ke World Health Organization (WHO) melonjak dari sekitar 500 ribu kasus pada tahun 2000 menjadi belasan juta kasus pada 2020-an. Banyak dari kasus ini terjadi di negara tropis/subtropis, di mana populasi anak sangat rentan. ) Karena penyakit ini menyebar luas dan tidak spesifik gejalanya, kasus pada anak—mulai dari ringan sampai berat—diperkirakan jauh lebih banyak daripada yang dilaporkan, sehingga beban sesungguhnya kemungkinan besar lebih besar.
- Situasi di Indonesia: Anak sebagai Kelompok Rentan
- Di Indonesia, DBD tetap menjadi penyakit endemik dengan beban tinggi pada anak. Menurut data dari tahun-terakhir, sebagian besar kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0–14 tahun — secara spesifik disebut bahwa pada 2022, 73% dari kematian terkait DBD terjadi pada kelompok anak ini. Beberapa daerah melaporkan bahwa anak — terutama usia sekolah / pra-remaja — sering mendominasi kasus, karena kombinasi sistem imun yang belum matang dan paparan tinggi terhadap vektor di lingkungan rumah dan sekolah.
- Meskipun pola usia >15 tahun (dewasa) memasuki porsi lebih besar dari kasus secara keseluruhan, data historis menunjukkan bahwa pada periode 2016–2019, sekitar 50–54% kasus tetap terjadi pada usia 0–14 tahun, menunjukkan bahwa anak terus menjadi populasi paling rentan.
- Faktor Pemicu & Tantangan Epidemiologi Saat Ini
- Beberapa faktor memperparah epidemiologi DBD pada anak: perubahan iklim, suhu tinggi, curah hujan dan kelembapan memperluas area vektor Aedes aegypti / Aedes albopictus, urbanisasi padat, sanitasi buruk, serta mobilitas populasi. Pola siklus epidemik yang berulang tiap beberapa tahun — serta penurunan kekebalan komunitas pasca-wabah besar — menyebabkan gelombang baru DBD, termasuk pada anak-anak yang sebelumnya belum terpapar.
- Selain itu, sistem surveilans dan pelaporan seringkali tidak menangkap kasus ringan atau asimptomatik, terutama pada anak, sehingga beban sesungguhnya bisa jauh lebih tinggi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam penanggulangan, karena deteksi dini, pencegahan vektor, dan intervensi di lingkungan sangat penting—terutama di kelompok usia rentan seperti anak-anak.
Imunopatofisiologi
- Infeksi virus dengue pada anak dimulai saat virus masuk melalui gigitan nyamuk dan bereplikasi di sel dendritik serta makrofag kulit. Proses ini kemudian memicu respons imun bawaan yang melibatkan interferon, sitokin proinflamasi, dan aktivasi sel NK. Namun, virus dengue memiliki kemampuan menghindari respons imun dengan menghambat jalur interferon, sehingga memungkinkan replikasi lebih cepat pada anak.
- Pada infeksi sekunder, terjadi fenomena antibody-dependent enhancement (ADE), di mana antibodi non-netralisasi yang sudah ada justru mempermudah virus memasuki makrofag, meningkatkan replikasi virus, dan memperburuk inflamasi. Mekanisme ADE adalah alasan utama mengapa infeksi kedua atau lebih dapat menimbulkan dengue berat, terutama pada anak yang jumlah antibodinya belum matang atau tidak seimbang.
- Peradangan sistemik yang luas juga menyebabkan pelepasan sitokin seperti TNF-α, IL-6, IL-10, dan interferon-γ yang memicu peningkatan permeabilitas kapiler secara drastis. Hasilnya adalah kebocoran plasma yang menyebabkan hemokonsentrasi, efusi pleura, asites, dan syok hipovolemik. Anak lebih mudah mengalami peningkatan permeabilitas karena integritas endotel mereka masih dalam tahap perkembangan.
- Selain itu, aktivasi sel T berlebihan dan kerusakan endotel secara imunologis dapat menyebabkan gangguan hemostasis, trombositopenia, dan kecenderungan perdarahan. Kombinasi antara kerusakan endotel, aktivasi koagulasi, dan supresi sumsum tulang menghasilkan gambaran klinis dengue berat yang sering ditemukan pada populasi anak.
Tabel Tanda dan Gejala DBD pada Anak
| Kategori | Tanda dan Gejala Utama |
|---|---|
| Sistemik | Demam tinggi mendadak, badan lemah, sakit kepala, nyeri otot-persendian |
| Gastrointestinal | Nyeri perut, mual, muntah, tidak nafsu makan, pembesaran hati |
| Hematologis | Trombositopenia, perdarahan kulit, mimisan, gusi berdarah, hematemesis |
| Kardiovaskular | Nadi lemah, hipotensi, dingin ujung ekstremitas (tanda syok) |
| Respiratori | Efusi pleura, sesak napas bila kebocoran plasma berat |
| Neurologis | Lemas berat, gelisah, penurunan kesadaran (jarang namun fatal) |
Tanda dan gejala DBD pada anak sangat bergantung pada fase penyakit. Pada fase demam, gejala umumnya tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dari infeksi virus lainnya. Namun, perhatian harus diberikan pada gejala awal tanda bahaya seperti muntah berulang, nyeri perut hebat, perdarahan spontan, serta perubahan perilaku anak. Pada fase kritis, kebocoran plasma menjadi tanda paling penting yang menentukan keparahan penyakit.
Gejala respirasi seperti sesak napas dapat muncul akibat efusi pleura atau asites signifikan yang menekan diafragma. Sementara itu, tanda-tanda syok seperti ekstremitas dingin, nadi cepat lemah, serta penurunan kesadaran merupakan kondisi gawat darurat. Oleh karena itu, pemantauan ketat tanda vital dan hematokrit setiap 6 jam sangat penting terutama pada anak.
Diagnosis DBD menurut WHO terkini
- Untuk menegakkan diagnosis DBD, WHO menekankan bahwa konfirmasi laboratorium sangat penting — tidak cukup hanya berdasarkan gejala klinis — karena banyak penyakit lain (virus, parasit, bakteri) yang gejalanya tumpang tindih dengan dengue.
- Tes diagnostik bisa berupa: deteksi antigen (misalnya antigen NS1), deteksi RNA virus (misalnya RT-PCR), atau pemeriksaan antibodi (IgM/IgG), tergantung fase penyakit (hari ke penyakit).
- Jika laboratorium tersedia:
- Pada fase akut (sekitar 0–5 hari setelah onset gejala), idealnya dilakukan deteksi virus (antigen NS1 atau RNA).
- Setelah fase akut (lebih dari hari ke-5–7), serologi IgM/IgG bisa membantu diagnosis.
- Secara klinis (jika konfirmasi lab belum tersedia), diagnosis suspek dapat ditegakkan pada orang dengan demam + tinggal/baru pulang dari area endemis + minimal 2 tanda/ gejala seperti mual/muntah, ruam, nyeri otot/send — ditambah bila terdapat “warning signs” (misalnya nyeri perut hebat, muntah persisten, cairan ikut bocor, perdarahan mukosa, lethargia/gelisah, pembesaran hati).
- Untuk klasifikasi dan memandu manajemen, WHO 2009 (dan panduan terkini) menggunakan 3 kategori: dengue tanpa warning signs, dengue dengan warning signs, dan severe dengue (dengue berat / berat).
Catatan Penting
- WHO 2025 menekankan bahwa diagnosis klinis saja tidak cukup — kombinasi dengan tes laboratorium sangat dianjurkan agar dapat membedakan dengue dari penyakit lain dengan gejala demam serupa.
- Manajemen cairan harus ketat dan dipantau terus-menerus: terlalu sedikit → risiko syok, terlalu banyak → risiko overhidrasi saat fase kebocoran berhenti.
Komplikasi
- Komplikasi paling serius pada anak adalah dengue shock syndrome (DSS) yang terjadi akibat kebocoran plasma masif. Syok hipovolemik dapat berkembang cepat dan bila tidak ditangani segera dapat menyebabkan gagal organ dan kematian. Anak cenderung memasuki fase syok tanpa penurunan trombosit ekstrem, sehingga klinisi harus sangat waspada.
- Komplikasi hematologis seperti perdarahan masif, disseminated intravascular coagulation (DIC), dan supresi sumsum tulang dapat terjadi pada kasus berat. Perdarahan gastrointestinal, hematemesis, melena, serta perdarahan intracranial merupakan komplikasi yang meski jarang, sangat mematikan pada anak.
- Selain itu, komplikasi organ seperti hepatitis dengue, gagal ginjal akut, ensefalitis dengue, dan miokarditis dapat muncul. Komplikasi multiorgan lebih sering pada anak dengan infeksi sekunder, gizi buruk, atau keterlambatan terapi cairan.
Penanganan
- Penatalaksanaan DBD pada anak dimulai dengan observasi ketat (O) termasuk monitoring suhu, nadi, tekanan darah, pengisian kapiler, urin, hematokrit, dan trombosit tiap 6 jam atau lebih sering pada anak risiko tinggi. Fase kritis yang berlangsung 24–48 jam harus diantisipasi dengan evaluasi klinis dan laboratorium yang komprehensif.
- Manajemen cairan (F – Fluid) adalah pilar utama terapi. Cairan kristaloid seperti Ringer Laktat atau NaCl 0,9% diberikan berdasarkan derajat syok dan respons klinis. Pada syok dengue, bolus cepat 10–20 mL/kg harus diberikan dan dievaluasi dalam 15–30 menit. Cairan berlebih harus dihindari karena dapat memperburuk kebocoran plasma setelah fase kritis.
- C – Control / pemantauan lanjutan meliputi pengendalian perdarahan, pemantauan elektrolit, fungsi hati, ginjal, serta memastikan pasien tidak masuk ke fase overhidrasi. Pemantauan urin sangat penting untuk menilai perfusi ginjal. Pada anak dengan nyeri berat atau muntah berulang, antiemetik dan analgesik non-NSAID dapat diberikan.
- Anak dengan tanda bahaya harus dirawat inap, sedangkan kasus berat harus di ICU. Transfusi darah hanya diberikan bila terjadi perdarahan masif, bukan berdasarkan trombosit rendah saja. Penggunaan steroid, antiviral, atau antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada indikasi lain.
- Penanganan DBD menurut Pedoman WHO 2025Menurut pedoman terbaru (2025) dari WHO untuk manajemen arbovirus (termasuk dengue), berikut prinsip penanganan DBD:
- Kasus non-berat (dengue tanpa atau dengan warning signs)
- Terapi cairan oral terprotokol (oral rehydration) dianjurkan dibanding cairan oral tanpa protokol
- Untuk demam dan nyeri/panas, dianjurkan parasetamol (acetaminofen).
- Hindari penggunaan NSAID/aspirin/obat antiinflamasi non-steroid lain, karena risiko perdarahan meningkat.
- Kasus berat / berisiko tinggi (severe dengue)
- Jika diperlukan cairan intravena: WHO menyarankan cairan kristaloid (bukan koloid) sebagai pilihan pertama.
- Gunakan capillary refill time sebagai salah satu panduan dalam pemberian cairan IV untuk menilai perfusi dan kebutuhan volume.
- Tambahan: pengukuran laktat disarankan dalam manajemen kasus berat untuk memantau perfusi dan respons terhadap cairan.
- Jika ragu apakah akan memberi tambahan cairan IV, dapat digunakan passive leg raise test untuk menilai respons hemodinamik sebelum pemberian volume tambahan.
- Prinsip umum
- Tidak ada antiviral spesifik untuk dengue — pengobatan bersifat suportif/simptomatik.
- Rawat jalan (outpatient) hanya untuk kasus ringan tanpa warning signs dan yang bisa menjaga hidrasi serta dapat dipantau.
- Apabila ada warning signs, tanda kebocoran plasma, atau tanda organ/gagal sirkulasi → harus dirawat inap atau di rujuk sesuai algoritma manajemen.
- Kasus non-berat (dengue tanpa atau dengan warning signs)
Kesimpulan
- DBD pada anak merupakan penyakit infeksi tropis yang dapat berkembang cepat menjadi kondisi mengancam jiwa bila tidak ditangani secara tepat. Mekanisme imun seperti ADE menyebabkan anak lebih rentan mengalami kebocoran plasma, syok, dan gangguan organ. Pemahaman fase penyakit, identifikasi tanda bahaya, serta manajemen cairan yang tepat dan terukur sangat penting dalam mencegah mortalitas. Tatalaksana komprehensif termasuk observasi ketat, fluid resuscitation, dan kontrol berkelanjutan merupakan inti penanganan efektif pada populasi anak.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Dengue: guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. Geneva: WHO; 2022.
- Wilder-Smith A, Ooi EE, Horstick O, Wills B. Dengue. Lancet. 2019;393(10169):350-363.
- Martina BE, Koraka P, Osterhaus AD. Dengue virus pathogenesis: an integrated view. Clin Microbiol Rev. 2009;22(4):564-581.
- Guzman MG, Harris E. Dengue. Lancet. 2015;385(9966):453-465.
- Simmons CP, Farrar JJ, Nguyen VV, Wills B. Dengue. N Engl J Med. 2012;366(15):1423-1432.
- Srikiatkhachorn A, Kelley JF. Immune-mediated vascular leakage in severe dengue. Curr Opin Hematol. 2014;21(3):231-238.
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Dengue. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- Nguyen TH, Tran TH, Ninh TT, et al. Fluid management in dengue shock syndrome in children. J Trop Pediatr. 2020;66(2):135-144.









Leave a Reply