Campak pada Anak: Tinjauan Klinis, Epidemiologi, dan Penatalaksanaan Terkini
Abstrak
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular dan masih menjadi penyebab morbiditas serta mortalitas signifikan pada anak di seluruh dunia, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Penyakit ini disebabkan oleh Measles virus (MV), anggota famili Paramyxoviridae, yang ditularkan melalui droplet dan airborne dengan tingkat penularan mencapai 90% pada individu rentan. Manifestasi klinis mencakup demam tinggi, batuk, koriza, konjungtivitis, ruam makulopapular, dan lesi khas Koplik. Komplikasi seperti pneumonia, diare berat, ensefalitis, dan malnutrisi dapat terjadi terutama pada anak kecil dan pasien dengan defisiensi imun. Artikel ini membahas definisi, epidemiologi, penyebab, imunopatofisiologi, diagnosis, komplikasi, serta penatalaksanaan campak berdasarkan literatur ilmiah dan pedoman terkini, dilengkapi tabel gejala dan terapi medikamentosa.
Pendahuluan
Campak adalah salah satu penyakit infeksi paling menular yang dikenal dalam ilmu kedokteran, dan sebelum era vaksinasi merupakan penyebab utama kematian anak. Meski telah tersedia vaksin yang sangat efektif, kejadian campak masih meningkat secara global akibat penurunan cakupan imunisasi, disinformasi vaksin, konflik, perpindahan penduduk, dan gangguan sistem kesehatan. Pada anak, campak menyebabkan respon inflamasi sistemik yang luas, mengganggu imunitas seluler dan humoral sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi sekunder jangka panjang, dikenal sebagai immunological amnesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara mengalami kembali kejadian luar biasa (KLB) campak, termasuk Indonesia, yang mencerminkan tantangan besar dalam mempertahankan herd immunity. Beban komplikasi campak sangat signifikan pada anak usia <5 tahun dan pada pasien malnutrisi atau defisiensi vitamin A. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai perjalanan penyakit, diagnosis akurat, dan penanganan berbasis bukti sangat penting dalam menekan angka morbiditas dan mortalitas.
Definisi
- Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Measles virus, ditandai oleh febris tinggi, triad batuk–koriza–konjungtivitis, munculnya bercak Koplik, dan ruam makulopapular generalisata. Penyakit ini memiliki masa inkubasi 10–14 hari dan bersifat sangat menular bahkan sebelum ruam muncul. Pada anak, manifestasi dapat bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung status imun, nutrisi, dan paparan sebelumnya.
- Secara virologis, Measles virus adalah virus RNA beruntai tunggal negatif dari genus Morbillivirus. Tidak ada carrier state atau infeksi kronis; seluruh kasus berasal dari transmisi akut. Virus memiliki kecenderungan kuat terhadap epitel respirasi dan sel imun, menyebabkan imunosupresi yang berlangsung hingga berbulan-bulan.
- Dalam konteks kesehatan masyarakat, campak dikategorikan sebagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dengan prioritas global karena tingginya basic reproductive number (R0 ≈ 12–18) sehingga memerlukan cakupan vaksinasi >95% untuk mencegah penularan.
Epidemiologi
- Campak tetap menjadi ancaman global meskipun adanya vaksin. WHO melaporkan peningkatan kasus lebih dari 30% secara global dalam beberapa tahun terakhir, terutama di negara dengan cakupan imunisasi yang menurun. Anak di bawah usia lima tahun menyumbang proporsi terbesar kasus dan kematian. Negara di Afrika sub-Sahara dan Asia Tenggara melaporkan beban terbesar.
- Di Indonesia, campak masih menjadi salah satu penyakit dengan laporan KLB tertinggi. Faktor penyebab termasuk cakupan imunisasi yang tidak merata, kesalahan informasi mengenai vaksin, serta gangguan layanan kesehatan terutama pada masa pandemi COVID-19. Data Kemenkes menunjukkan peningkatan kasus signifikan setelah tahun 2022, dengan banyak kasus pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
- Selain itu, epidemiologi campak dipengaruhi faktor malnutrisi, kepadatan penduduk, dan akses kesehatan. Anak dengan defisiensi vitamin A lebih rentan mengalami komplikasi berat, dan lingkungan padat mempercepat penyebaran virus. Mobilitas global meningkat risiko impor kasus ke wilayah sebelumnya bebas campak, menyebabkan KLB di banyak negara maju.
Penyebab dan Penularan
- Penyebab campak adalah infeksi oleh Measles virus, yang menyerang epitel saluran pernapasan atas sebelum menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Virus memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor SLAM/CD150 yang terdapat pada sel imun, sehingga memicu disfungsi imun sistemik.
- Penularan terjadi melalui droplet respiratori dan aerosol yang dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah pasien meninggalkan ruangan. Sifat penularan yang sangat tinggi menyebabkan hampir semua individu yang tidak memiliki kekebalan akan tertular jika terpapar. Pasien dapat menularkan sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah muncul ruam, membuat pencegahan sangat sulit bila imunisasi tidak optimal.
- Penularan diperberat oleh kondisi lingkungan padat, ventilasi buruk, dan rendahnya cakupan vaksin. Anak yang belum diimunisasi (bayi <9 bulan atau tidak lengkap imunisasi) serta pasien dengan gangguan imun merupakan kelompok paling rentan.
Imunopatofisiologi
- Infeksi dimulai saat virus masuk melalui saluran napas dan menginfeksi sel dendritik serta makrofag alveolar. Virus kemudian bermigrasi ke kelenjar getah bening regional, bereplikasi, dan menyebabkan viremia primer. Pada fase ini gejala masih minimal.
- Viremia sekunder terjadi ketika virus menyebar ke jaringan epitel, endotel, dan sel imun di seluruh tubuh. Respon imun humoral dan seluler diaktifkan, menghasilkan manifestasi klinis khas seperti demam, inflamasi mukosa, dan ruam. Ruam campak adalah hasil reaksi hipersensitivitas tipe IV akibat invasi sel T terhadap sel terinfeksi virus di kulit.
- Campak menyebabkan imunosupresi signifikan dengan menurunkan memori imun melalui mekanisme immune amnesia. Virus menyebabkan apoptosis limfosit dan menghapus sebagian memori imun yang terbentuk sebelumnya. Akibatnya, pasien lebih rentan infeksi sekunder selama berbulan-bulan setelah pulih dari campak.
- Selain itu, inflamasi sistemik dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ termasuk paru, otak, dan usus. Pada anak dengan malnutrisi, terutama defisiensi vitamin A, kerusakan epitel lebih berat sehingga risiko komplikasi meningkat.
- Setelah masuk melalui saluran pernapasan atas, virus campak (Measles morbillivirus) menempel pada sel epitel respirasi menggunakan protein hemagglutinin (H) dan melewati membran sel melalui fusi yang dimediasi protein F. Virus kemudian bereplikasi dalam sel epitel, makrofag, dan sel limfoid regional seperti sel dendritik dan sel T memori. Sel dendritik yang terinfeksi memfasilitasi penyebaran virus ke kelenjar getah bening dan organ limfoid primer, termasuk limpa dan timus, menghasilkan limfosupresi sementara. Replikasi virus pada sel epitel dan sel limfoid memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti IL-1, IL-6, TNF-α, serta chemokine yang menarik sel imun ke lokasi infeksi. Akibatnya, terjadi kerusakan epitel respirasi atas dan penurunan fungsi sel T yang sementara, yang berkontribusi pada peningkatan kerentanan terhadap infeksi sekunder.
- Sel T CD4+ dan CD8+ diaktifkan melalui pengenalan antigen viral oleh sel dendritik, memicu proliferasi dan diferensiasi sel T efektor serta produksi sitokin spesifik seperti IFN-γ dan IL-2 yang membantu kontrol replikasi virus. Sel B merespons antigen virus dengan menghasilkan antibodi IgM awal dan kemudian IgG serta IgA sekretori, yang penting untuk penetralan virus dan pencegahan infeksi ulang. Interaksi kompleks antara sitokin, sel T, dan sel B memodulasi imunitas humoral dan seluler, sementara virus tetap dapat menginfeksi organ target lain seperti kulit dan konjungtiva, menghasilkan eksantema khas campak. Akumulasi respons imun inilah yang menyebabkan gejala sistemik, termasuk demam, malaise, dan ruam makulopapular, sekaligus memberikan dasar imunitas jangka panjang terhadap infeksi selanjutnya.
Tabel Tanda dan Gejala Campak
| Manifestasi Klinis | Keterangan |
|---|---|
| Demam tinggi | Bertahan 3–5 hari, sering >39°C |
| Batuk, koriza, konjungtivitis | Trias klasik campak |
| Bercak Koplik | Lesi putih keabu-abuan di mukosa bukal |
| Ruam makulopapular | Dimulai dari wajah → batang tubuh → ekstremitas |
| Diare | Umum pada anak, terutama yang malnutrisi |
| Pneumonia | Komplikasi tersering dan paling mematikan |
| Ensefalitis | Komplikasi neurologis serius |
Campak memiliki spektrum tanda klinis khas yang berkembang secara bertahap. Gejala prodromal seperti batuk, koriza, dan konjungtivitis muncul beberapa hari sebelum ruam. Bercak Koplik di mukosa bukal merupakan tanda patognomonik dan sering muncul 1–2 hari sebelum ruam kulit. Ruam makulopapular yang dimulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh merupakan hallmark penting diagnosis.
Manifestasi sistemik seperti diare, pneumonia, dan otitis media sering terjadi akibat imunosupresi yang diinduksi virus. Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak, sedangkan ensefalitis dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti retardasi perkembangan atau SSPE (subacute sclerosing panencephalitis) bertahun-tahun setelah infeksi.
Diagnosis
- Diagnosis campak terutama bersifat klinis berdasarkan gejala khas: demam ≥3 hari, triad batuk-koriza-konjungtivitis, dan ruam makulopapular. Identifikasi Koplik spots sangat membantu memastikan diagnosis.
- Konfirmasi laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan IgM anti-campak, yang biasanya positif mulai hari ke-3–4 setelah ruam muncul. Pemeriksaan PCR dari swab nasofaring atau urin dapat digunakan terutama pada awal penyakit atau pada kasus dengan imunodefisiensi.
- Diagnosis banding mencakup rubella, dengue, roseola, adenovirus, dan reaksi obat. Riwayat imunisasi, perjalanan penyakit, dan hasil pemeriksaan laboratorium membantu membedakannya. Pelaporan kasus segera kepada otoritas kesehatan sangat penting karena campak merupakan penyakit yang wajib dilaporkan.
Komplikasi
- Komplikasi campak paling sering terjadi pada anak <5 tahun, malnutrisi, dan pasien imunokompromais. Pneumonia adalah komplikasi tersering dan paling mematikan, umumnya akibat infeksi bakteri sekunder atau pneumonitis akibat virus itu sendiri.
- Ensefalitis akut terjadi pada sekitar 1 dari 1000 kasus, ditandai dengan kejang, perubahan kesadaran, dan risiko kecacatan neurologis permanen. Bentuk kronis seperti SSPE muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal dan bersifat fatal.
- Komplikasi lain termasuk diare berat, dehidrasi, otitis media, kebutaan akibat keratitis (terutama pada defisiensi vitamin A), dan malnutrisi berat. Karena itu, pemantauan ketat pada anak kelompok risiko sangat penting.
Penanganan
- Penanganan campak bersifat suportif karena tidak ada terapi antivirus spesifik. Terapi utama meliputi pengaturan cairan, antipiretik, nutrisi adekuat, dan isolasi pasien untuk mencegah transmisi. Vitamin A merupakan komponen penting terapi karena terbukti mengurangi mortalitas dan komplikasi.
- Anak dengan pneumonia, diare berat, atau komplikasi neurologis memerlukan rawat inap untuk pemantauan. Antibiotik diberikan bila terdapat bukti infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia atau otitis media. Perawatan intensif diperlukan pada pasien dengan gagal napas atau ensefalitis.
- Pemantauan status hidrasi sangat penting pada anak kecil, terutama bila diare atau muntah terjadi. Selain itu, edukasi orang tua tentang tanda bahaya seperti sesak, kejang, atau penurunan kesadaran sangat diperlukan.
- Vaksinasi pasca-pajanan (post-exposure prophylaxis) dapat diberikan pada kontak erat yang rentan menggunakan vaksin MMR dalam 72 jam atau imunoglobulin dalam <6 hari pada bayi atau pasien imunokompromais.
Tabel Penanganan Medikamentosa
| Terapi | Dosis | Indikasi |
|---|---|---|
| Vitamin A | <6 bulan: 50.000 IU x2 hari 6–11 bulan: 100.000 IU x2 hari ≥12 bulan: 200.000 IU x2 hari | Semua kasus campak |
| Antipiretik (parasetamol) | 10–15 mg/kg tiap 6–8 jam | Demam, kenyamanan |
| Antibiotik (amoksisilin/ampisilin) | Sesuai pedoman | Infeksi bakteri sekunder |
| Cairan oral/IV | Sesuai kebutuhan | Dehidrasi |
| Imunoglobulin | 0.25 mL/kg IM | Post-exposure prophylaxis pada risiko tinggi |
Vitamin A merupakan satu-satunya terapi dengan bukti kuat menurunkan mortalitas, terutama pada anak malnutrisi atau dengan komplikasi berat. Pemberian dua dosis dalam 24 jam terbukti memperbaiki integritas epitel dan fungsi imun. Antipiretik diberikan untuk mengurangi demam dan meningkatkan kenyamanan, sementara cairan dan nutrisi diperlukan untuk mencegah dehidrasi. Antibiotik tidak diberikan secara rutin, tetapi hanya pada kasus dengan infeksi bakteri sekunder. Pemberian imunoglobulin sangat penting dalam pencegahan sekunder terutama pada bayi <6 bulan dan pasien imunodefisiensi yang tidak dapat menerima vaksin MMR.
Pencegahan
- Imunisasi merupakan strategi pencegahan paling efektif terhadap campak, karena vaksin campak (bagian dari vaksin MMR atau MR) mampu memberikan kekebalan jangka panjang pada lebih dari 95% anak yang mendapat dua dosis lengkap. Vaksin bekerja dengan menghasilkan respons imun humoral dan seluler yang kuat, sehingga tubuh dapat mengenali dan menetralisir virus secara cepat bila terjadi paparan. Pemberian dosis pertama pada usia 9 bulan (atau 12 bulan menurut beberapa negara) dan dosis kedua pada usia 18 bulan–6 tahun memastikan terbentuknya imunitas populasi atau herd immunity, yang sangat penting mengingat basic reproductive number (R0) campak yang sangat tinggi, yakni 12–18.
- Cakupan imunisasi minimal 95% diperlukan untuk menghentikan rantai penularan campak. Namun, gangguan cakupan vaksin akibat pandemi, konflik sosial, migrasi, dan meningkatnya keraguan vaksin menyebabkan kebangkitan kembali kasus campak global. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap sangat rentan tertular, bahkan pada paparan singkat, karena virus campak dapat bertahan di udara hingga dua jam. Wilayah dengan cakupan imunisasi rendah sering menjadi titik awal kejadian luar biasa (KLB), sehingga penguatan program imunisasi rutin dan kegiatan tambahan seperti kampanye nasional (Supplementary Immunization Activities) sangat penting.
- Selain pemberian vaksin rutin, pencegahan campak juga mencakup imunisasi pasca-pajanan (post-exposure prophylaxis) bagi individu rentan yang terpapar. Vaksin MMR dapat diberikan dalam 72 jam setelah paparan untuk mencegah atau memperingan penyakit, sedangkan imunoglobulin intramuskular diberikan dalam enam hari bagi bayi <6 bulan, ibu hamil, atau individu imunokompromais. Pendekatan ini, bersama penguatan surveilans, edukasi masyarakat, dan perbaikan nutrisi terutama vitamin A, membentuk strategi komprehensif yang efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat campak.
Kesimpulan
Campak merupakan penyakit sangat menular dengan dampak serius pada anak, terutama yang tidak divaksinasi atau mengalami malnutrisi. Meskipun terdapat vaksin efektif, peningkatan kasus global menunjukkan perlunya penguatan sistem imunisasi, deteksi dini, dan penanganan berbasis bukti. Vitamin A memainkan peran sentral dalam terapi, sementara antibiotik hanya untuk kasus dengan infeksi sekunder. Upaya pencegahan melalui vaksinasi tetap strategi paling efektif dalam mengendalikan campak.
Daftar Pustaka
- Moss WJ. Measles. Lancet. 2017;390(10111):2490-2502.
- Perry RT, Halsey NA. The clinical significance of measles: a review. J Infect Dis. 2004;189 Suppl 1:S4–S16.
- World Health Organization. Measles fact sheet. 2023.
- Griffin DE. Measles virus. Fields Virology. 2013.
- Semba RD. Vitamin A and immunity to viral, bacterial and protozoan infections. Nutr Rev. 1999;57(11):309-17.
- Patel MK et al. Progress toward regional measles elimination — worldwide, 2000–2022. MMWR. 2023.
- Orenstein WA et al. Measles: epidemiology and control. N Engl J Med. 2019;381:349–357.








Leave a Reply