DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Sepsis Neonatus: Infeksi Berat pada Bayi Baru Lahir yang Memerlukan Diagnosis dan Penanganan Dini

Sepsis Neonatus: Infeksi Berat pada Bayi Baru Lahir yang Memerlukan Diagnosis dan Penanganan Dini

Sepsis neonatus merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi baru lahir di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi ketika tubuh bayi memberikan respons inflamasi yang berlebihan terhadap infeksi bakteri, virus, atau jamur sehingga dapat mengganggu fungsi berbagai organ, seperti paru-paru, jantung, ginjal, hati, hingga otak. Meskipun kemajuan dalam pelayanan neonatal telah meningkatkan angka keselamatan bayi, sepsis masih menjadi tantangan besar karena gejalanya sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dari gangguan lain pada masa neonatal.

Diperkirakan angka kejadian sepsis neonatus berkisar antara 1 hingga 4 kasus per 1.000 kelahiran hidup di negara maju, sedangkan di negara berkembang angkanya lebih tinggi akibat keterbatasan fasilitas kesehatan, tingginya angka prematuritas, dan keterlambatan diagnosis. Bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko paling tinggi karena sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang secara optimal.

Mengapa Bayi Baru Lahir Lebih Rentan Mengalami Sepsis?

Sistem imun bayi baru lahir masih berada dalam tahap perkembangan sehingga kemampuan mengenali dan menghancurkan mikroorganisme belum sebaik pada anak yang lebih besar maupun orang dewasa. Selain itu, produksi antibodi, aktivitas neutrofil, fungsi makrofag, dan sistem komplemen masih belum matang. Kondisi ini menyebabkan kuman lebih mudah berkembang dan menyebar melalui aliran darah.

Infeksi dapat berasal dari ibu selama kehamilan atau proses persalinan maupun diperoleh setelah bayi lahir. Risiko meningkat pada bayi yang lahir prematur, mengalami ketuban pecah dini lebih dari 18 jam, ibu mengalami infeksi selama persalinan, bayi memerlukan ventilator atau kateter intravena, menjalani perawatan lama di ruang intensif neonatal (NICU), atau memiliki kelainan bawaan yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Jenis Sepsis Neonatus

Berdasarkan waktu terjadinya, sepsis neonatus dibagi menjadi dua kelompok utama.

  • Early-onset sepsis (EOS) terjadi dalam 72 jam pertama hingga tujuh hari pertama kehidupan. Sebagian besar kasus disebabkan oleh penularan mikroorganisme dari ibu kepada bayi selama kehamilan atau persalinan. Kuman yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus grup B dan Escherichia coli.
  • Late-onset sepsis (LOS) terjadi setelah usia 72 jam hingga 28 hari kehidupan. Infeksi umumnya berasal dari lingkungan rumah sakit atau komunitas dan lebih sering dijumpai pada bayi yang menjalani perawatan intensif. Mikroorganisme penyebab antara lain Coagulase-negative Staphylococcus, Staphylococcus aureus, Klebsiella spp., Pseudomonas spp., serta Candida spp.

Gejala Klinis Sering Tidak Khas

  • Salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis sepsis neonatus adalah gejalanya yang tidak spesifik. Bayi dapat tampak lemah, kurang aktif, sulit menyusu, atau lebih banyak tidur dibandingkan biasanya. Gejala tersebut sering kali menyerupai gangguan ringan sehingga diagnosis dapat terlambat.
  • Manifestasi klinis dapat berupa demam atau justru suhu tubuh rendah, napas cepat, henti napas sesaat (apnea), sesak napas, kulit pucat atau kebiruan, muntah, perut kembung, penurunan kesadaran, kejang, hingga syok septik. Pada kondisi berat dapat terjadi kegagalan multiorgan yang mengancam jiwa sehingga setiap bayi dengan perubahan kondisi umum perlu segera dievaluasi oleh tenaga kesehatan.

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

  • Diagnosis sepsis neonatus tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis. Dokter akan menggabungkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, faktor risiko, serta berbagai pemeriksaan laboratorium. Kultur darah tetap menjadi standar emas untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi. Namun, hasil kultur dapat tetap negatif meskipun bayi benar-benar mengalami sepsis, terutama bila jumlah bakteri sangat sedikit atau antibiotik telah diberikan sebelumnya.
  • Pemeriksaan lain yang sering dilakukan meliputi hitung darah lengkap, kadar C-reactive protein (CRP), prokalsitonin (PCT), analisis gas darah, kultur cairan serebrospinal bila dicurigai meningitis, serta pemeriksaan urin atau pencitraan sesuai indikasi klinis. Saat ini berbagai biomarker dan teknologi diagnostik molekuler juga sedang dikembangkan untuk mempercepat diagnosis sehingga terapi dapat diberikan lebih dini.

Penatalaksanaan

  • Sepsis neonatus merupakan keadaan gawat darurat yang memerlukan terapi segera. Antibiotik empiris harus diberikan sesegera mungkin setelah pengambilan sampel kultur apabila terdapat kecurigaan klinis yang kuat. Pemilihan antibiotik disesuaikan dengan usia bayi, faktor risiko, pola kuman di rumah sakit, serta hasil pemeriksaan mikrobiologi apabila telah tersedia.
  • Selain antibiotik, terapi suportif memegang peranan penting, meliputi pemberian cairan secara hati-hati, bantuan oksigen atau ventilasi mekanik bila diperlukan, stabilisasi tekanan darah, pengaturan suhu tubuh, pemberian nutrisi yang adekuat, serta pemantauan fungsi organ secara berkala. Pendekatan multidisiplin di unit perawatan intensif neonatal sangat berperan dalam meningkatkan angka kelangsungan hidup.

Pencegahan

  • Pencegahan sepsis dimulai sejak masa kehamilan melalui deteksi dan pengobatan infeksi maternal, pemantauan kehamilan secara rutin, serta tata laksana persalinan yang sesuai standar. Pada ibu dengan faktor risiko tertentu, pemberian antibiotik intrapartum dapat menurunkan risiko penularan infeksi kepada bayi.
  • Setelah bayi lahir, pencegahan dilakukan melalui penerapan kebersihan tangan, teknik aseptik saat tindakan invasif, pemberian ASI eksklusif, penggunaan antibiotik secara rasional, serta penerapan program pencegahan infeksi di ruang NICU. Upaya tersebut terbukti mampu menurunkan kejadian infeksi nosokomial dan mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan.

Kesimpulan

Sepsis neonatus merupakan penyakit infeksi sistemik yang masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. Gejala yang tidak khas menyebabkan diagnosis sering terlambat sehingga diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap setiap perubahan kondisi klinis pada neonatus. Penegakan diagnosis memerlukan kombinasi penilaian klinis, pemeriksaan laboratorium, dan kultur mikrobiologi. Keberhasilan tata laksana sangat bergantung pada pengenalan dini, pemberian antibiotik yang tepat waktu, terapi suportif yang optimal, serta penerapan strategi pencegahan infeksi yang komprehensif. Perkembangan biomarker dan teknologi diagnostik molekuler diharapkan mampu meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus mendukung penggunaan antibiotik yang lebih rasional pada masa mendatang.

Daftar Pustaka

  • Kariniotaki C, Thomou C, Gkentzi D, Panteris E, Dimitriou G, Hatzidaki E. Neonatal Sepsis: A Comprehensive Review. Antibiotics (Basel). 2025;14(1):6. doi:10.3390/antibiotics14010006.
  • Shane AL, Sánchez PJ, Stoll BJ. Neonatal sepsis. Lancet. 2017;390(10104):1770-1780.
  • Puopolo KM, Benitz WE, Zaoutis TE. Management of Neonates at Risk for Early-Onset Sepsis. Pediatrics. 2018;142:e20182894.
  • Wynn JL. Defining neonatal sepsis. Curr Opin Pediatr. 2016;28(2):135-140.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *