Negative Appendectomy pada Dewasa: Faktor Risiko, Angka Kejadian, dan Upaya Pencegahan Berdasarkan Bukti Terkini
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Abstrak
Apendisitis akut merupakan penyebab tersering tindakan bedah darurat pada dewasa. Diagnosis yang terlambat meningkatkan risiko perforasi, abses intraabdomen, dan sepsis, sedangkan diagnosis yang terlalu dini tanpa konfirmasi yang memadai dapat menyebabkan negative appendectomy, yaitu pengangkatan apendiks yang ternyata tidak mengalami inflamasi akut berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Pada populasi dewasa, Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs), konstipasi, penyakit ginekologi pada perempuan usia reproduktif, penyakit saluran cerna lainnya, serta alergi makanan dengan manifestasi gastrointestinal dapat menyerupai apendisitis sehingga meningkatkan risiko overdiagnosis. Artikel ini mengulas definisi negative appendectomy, angka kejadian, faktor risiko, kelompok pasien berisiko tinggi, serta strategi pencegahan berdasarkan bukti ilmiah terkini dan pedoman internasional. Pendekatan yang menggabungkan anamnesis, pemeriksaan fisik serial, skor klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan terbukti mampu menurunkan angka apendektomi negatif tanpa meningkatkan risiko perforasi.
Kata kunci: negative appendectomy, apendisitis, FGIDs, nyeri perut berulang, dewasa, overdiagnosis
Pendahuluan
Apendektomi merupakan salah satu operasi gawat darurat yang paling sering dilakukan pada pasien dewasa. Selama bertahun-tahun, banyak ahli bedah lebih memilih melakukan operasi lebih dini dibandingkan menunggu hingga diagnosis benar-benar pasti karena khawatir terjadi perforasi. Pendekatan tersebut memang dapat mengurangi keterlambatan terapi, tetapi juga meningkatkan angka negative appendectomy. Saat ini, perkembangan pemeriksaan laboratorium, ultrasonografi, CT scan, MRI, serta penggunaan skor klinis telah mengubah paradigma diagnosis sehingga keputusan operasi dapat dilakukan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Permasalahan menjadi lebih kompleks pada pasien dewasa dengan Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs). Kelompok ini sering mengalami nyeri perut kronis atau berulang yang dapat menyerupai gejala awal apendisitis. Tanpa evaluasi yang sistematis, pasien berisiko menjalani operasi yang sebenarnya tidak diperlukan.
Definisi Negative Appendectomy
Negative appendectomy adalah tindakan pengangkatan apendiks pada pasien yang dicurigai mengalami apendisitis akut, tetapi hasil pemeriksaan histopatologi setelah operasi tidak menunjukkan adanya inflamasi akut. Kondisi ini menjadi salah satu indikator mutu pelayanan bedah karena mencerminkan akurasi diagnosis sebelum operasi.
Sebelum penggunaan pencitraan modern secara luas, angka negative appendectomy dilaporkan berkisar 15% hingga 30%. Dengan penggunaan ultrasonografi, CT scan, MRI, serta penerapan skor klinis, angka tersebut di banyak pusat pelayanan kesehatan kini menurun menjadi kurang dari 10%, bahkan kurang dari 5% pada rumah sakit yang menerapkan protokol diagnostik berbasis bukti.
Mengapa Pasien Dewasa dengan FGIDs Lebih Berisiko?
Functional Gastrointestinal Disorders merupakan penyebab utama nyeri perut kronis pada populasi dewasa. Nyeri dapat muncul mendadak, hilang timbul, berpindah lokasi, bahkan terkadang berpusat di kuadran kanan bawah sehingga menyerupai apendisitis akut. Banyak pasien juga mengalami mual, penurunan nafsu makan, kembung, konstipasi, atau diare yang semakin menyulitkan diagnosis.
Selain FGIDs, penyakit inflamasi saluran cerna, divertikulitis, gastroenteritis, batu saluran kemih, penyakit ginekologi pada perempuan, serta alergi makanan dengan manifestasi gastrointestinal juga dapat memberikan gambaran klinis yang menyerupai apendisitis. Namun, riwayat gangguan tersebut tidak boleh digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan apendisitis karena beberapa kondisi dapat terjadi secara bersamaan.
Bukti Ilmiah Mengenai Overdiagnosis
Analisis nasional oleh Sukmanee dan kolega terhadap data pelayanan kesehatan di Thailand menunjukkan bahwa selama kebijakan lockdown COVID-19 jumlah pasien yang menjalani penanganan apendisitis menurun sekitar 13,4%. Menariknya, angka peritonitis dan komplikasi berat tetap stabil. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian kasus apendisitis tanpa komplikasi yang sebelumnya menjalani operasi kemungkinan merupakan overdiagnosis atau overtreatment.
Sebaliknya, penelitian Weinberger dan kolega menunjukkan bahwa sekitar 7,1% pasien mengalami misdiagnosis pada kunjungan pertama. Pasien yang terlambat didiagnosis memiliki risiko apendisitis komplikata jauh lebih tinggi dibandingkan pasien yang langsung dikenali. Hasil ini menunjukkan bahwa upaya mengurangi operasi yang tidak perlu tidak boleh menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Tinjauan Mostafa dan El-Atawi menegaskan bahwa kesalahan diagnosis sering dipengaruhi oleh gejala yang tidak khas, usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, bias kognitif, dan ketergantungan terhadap satu jenis pemeriksaan saja. Diagnosis yang akurat membutuhkan evaluasi klinis yang dilakukan secara menyeluruh dan berulang.
Faktor Risiko Negative Appendectomy
Beberapa kondisi diketahui meningkatkan kemungkinan terjadinya apendektomi negatif.
| Faktor Risiko | Penjelasan |
|---|---|
| Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs) | Nyeri berulang menyerupai apendisitis |
| Konstipasi | Nyeri kuadran kanan bawah sering menyerupai apendisitis |
| Gastroenteritis | Nyeri disertai muntah dan demam |
| Adenitis mesenterika | Manifestasi klinis mirip apendisitis |
| Divertikulitis | Dapat menyerupai nyeri abdomen akut |
| Batu ureter | Nyeri perut kanan bawah menyerupai apendisitis |
| Penyakit ginekologi | Kista ovarium, torsi ovarium, endometriosis, penyakit radang panggul |
| Alergi makanan dan alergi gastrointestinal | Nyeri perut, mual, muntah, diare, atau konstipasi menyerupai apendisitis |
| Pemeriksaan terlalu dini | Gejala khas belum berkembang |
| Tidak dilakukan pencitraan | Diagnosis hanya berdasarkan gejala |
| Tidak dilakukan observasi serial | Perjalanan penyakit tidak dapat dinilai |
Angka Kejadian Negative Appendectomy
Kajian Singhal dan Jadhav menunjukkan bahwa hanya 51,8% perempuan yang menjalani apendektomi benar-benar mengalami apendisitis berdasarkan histopatologi, sedangkan pada laki-laki angka konfirmasi mencapai 81,2%. Walaupun demikian, sebagian apendiks yang tampak normal secara makroskopis ternyata memiliki kelainan mikroskopis seperti hiperplasia limfoid, serositis, inflamasi lumen, fibro-obliterasi, atau fekalit. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penilaian makroskopis selama operasi tidak selalu mencerminkan kondisi histologis.
Strategi Pencegahan
Pencegahan negative appendectomy memerlukan pendekatan bertahap dan berbasis bukti.
- Melakukan anamnesis secara rinci, termasuk riwayat nyeri perut berulang, FGIDs, alergi makanan, dan penyakit saluran cerna lainnya.
- Melakukan pemeriksaan fisik secara serial selama masa observasi.
- Menggunakan Alvarado Score, Appendicitis Inflammatory Response (AIR) Score, atau Adult Appendicitis Score sesuai indikasi.
- Memeriksa leukosit, CRP, dan parameter laboratorium lain sesuai indikasi.
- Menggunakan ultrasonografi sebagai pemeriksaan pencitraan awal bila memungkinkan.
- Melakukan CT scan sebagai modalitas utama pada pasien dewasa bila diagnosis masih meragukan.
- Menggunakan MRI pada kondisi tertentu, seperti kehamilan atau bila paparan radiasi perlu dihindari.
- Melakukan diskusi multidisiplin antara dokter penyakit dalam, ahli bedah digestif, radiolog, dan dokter kandungan pada kasus yang kompleks.
Tabel. Bukti Ilmiah Mengenai Negative Appendectomy dan Overdiagnosis Apendisitis
| Penelitian | Desain | Temuan Utama | Implikasi Klinis |
|---|---|---|---|
| Sukmanee et al., 2022 | Analisis nasional Thailand | Kasus apendisitis turun 13,4% tanpa peningkatan komplikasi | Mengindikasikan kemungkinan overdiagnosis pada kasus ringan |
| Weinberger et al., 2023 | Kohort retrospektif, 1.268 pasien | Misdiagnosis 7,1%; komplikasi meningkat bila diagnosis terlambat | Akurasi diagnosis harus tetap dipertahankan |
| Mostafa & El-Atawi, 2024 | Tinjauan naratif | Bias kognitif dan gejala atipikal menjadi penyebab utama kesalahan diagnosis | Perlu evaluasi klinis menyeluruh dan pencitraan |
| Singhal & Jadhav, 2007 | Studi histopatologi | Konfirmasi histologi lebih rendah pada perempuan; banyak apendiks normal secara makroskopis memiliki kelainan mikroskopis | Evaluasi komprehensif dapat menurunkan angka negative appendectomy |
Kesimpulan
Negative appendectomy masih menjadi tantangan dalam tata laksana apendisitis pada pasien dewasa, terutama pada individu dengan Functional Gastrointestinal Disorders, penyakit saluran cerna lainnya, alergi gastrointestinal, atau kondisi lain yang menyerupai apendisitis. Tujuan utama bukan sekadar menurunkan angka operasi yang tidak diperlukan, tetapi memastikan setiap pasien yang benar-benar mengalami apendisitis memperoleh tindakan tepat waktu. Pendekatan berbasis bukti yang menggabungkan anamnesis, pemeriksaan fisik serial, skor klinis, pemeriksaan laboratorium, serta pencitraan merupakan strategi paling efektif untuk menyeimbangkan risiko overdiagnosis dan keterlambatan diagnosis. Dengan pendekatan tersebut, angka negative appendectomy dapat ditekan tanpa meningkatkan kejadian perforasi maupun komplikasi berat.
Referensi
- Sukmanee J, Butchon R, Sarajan MH, Saeraneesopon T, Boonma C, Karunayawong P, et al. Estimating the potential overdiagnosis and overtreatment of acute appendicitis in Thailand using a secondary data analysis of service utilization before, during and after the COVID-19 lockdown policy. PLoS One. 2022;17(11):e0270241. doi:10.1371/journal.pone.0270241.
- Weinberger H, Zeina AR, Ashkenazi I. Misdiagnosis of acute appendicitis in the emergency department: Prevalence, associated factors, and outcomes according to the patients’ disposition. Ochsner J. 2023;23(4):271-276. doi:10.31486/toj.23.0051.
- Singhal V, Jadhav V. Acute appendicitis: Are we over diagnosing it? Ann R Coll Surg Engl. 2007;89(8):766-769. doi:10.1308/003588407X209266.
- Mostafa R, El-Atawi K. Misdiagnosis of acute appendicitis cases in the emergency room. Cureus. 2024;16(3):e57141. doi:10.7759/cureus.57141.
- Samuel M. Pediatric Appendicitis Score. J Pediatr Surg. 2002;37(6):877-881.
- Di Saverio S, Podda M, De Simone B, et al. Diagnosis and Treatment of Acute Appendicitis: 2020 Update of the WSES Jerusalem Guidelines. World J Emerg Surg. 2020;15:27.











Leave a Reply