HPV dan Infertilitas pada Pria dan Wanita: Penyebab, Tanda Gejala, Dampak terhadap Kesuburan, Komplikasi, serta Pencegahan dengan Vaksin HPV
Pertanyaan:
Apakah infeksi Human Papillomavirus atau HPV dapat menyebabkan infertilitas pada pria dan wanita, bagaimana HPV ditularkan dan apa saja tipe HPV yang perlu diwaspadai, apa tanda dan gejala yang dapat muncul pada pria maupun wanita, bagaimana membedakan HPV yang tidak bergejala dengan HPV yang menimbulkan kutil genital atau perubahan sel pada serviks, apakah HPV dapat memengaruhi kualitas sperma, kesuburan wanita, kehamilan, atau kesehatan reproduksi, apa saja dampak dan komplikasi HPV yang perlu dikenali, apakah tindakan seperti LEEP atau eksisi serviks dapat memengaruhi kehamilan berikutnya, apakah vaksin HPV dapat mencegah infeksi dan kanker terkait HPV, siapa yang dianjurkan mendapatkan vaksin HPV, bagaimana jadwal pemberian vaksinnya berdasarkan usia, dan apa efek samping yang dapat terjadi setelah vaksinasi HPV?
Jawaban:
- HPV merupakan kelompok virus yang sangat umum dan terutama menular melalui kontak seksual serta kontak langsung kulit atau mukosa di area genital. HPV memiliki lebih dari 200 tipe. Sebagian tipe dapat menyebabkan kutil genital, sedangkan HPV risiko tinggi dapat menyebabkan perubahan sel yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kanker. Kanker serviks merupakan kanker yang paling erat kaitannya dengan infeksi HPV persisten. HPV juga berhubungan dengan beberapa kanker lain, termasuk kanker anus, penis, vulva, vagina, dan orofaring. Sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala dan dapat dikendalikan oleh sistem imun dalam waktu sekitar 1 sampai 2 tahun.
- Pada sebagian besar pria dan wanita, HPV sendiri belum terbukti sebagai penyebab langsung infertilitas. Artinya, seseorang yang terinfeksi HPV tidak otomatis mengalami gangguan kesuburan. Pada wanita, perhatian utama adalah infeksi HPV risiko tinggi yang menetap dan dapat menyebabkan lesi prakanker atau kanker serviks. Jika lesi tersebut memerlukan tindakan seperti LEEP atau eksisi serviks, tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko beberapa komplikasi kehamilan berikutnya, terutama persalinan prematur. Risiko dipengaruhi oleh kedalaman jaringan yang diangkat, teknik tindakan, dan jumlah tindakan yang pernah dilakukan.
- Pada pria, beberapa penelitian menemukan HPV pada semen dan melaporkan hubungan antara infeksi HPV dengan perubahan parameter sperma, terutama motilitas sperma. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan dengan gangguan keberhasilan reproduksi. Namun, hasil penelitian masih tidak konsisten dan hubungan tersebut belum membuktikan bahwa HPV merupakan penyebab tunggal infertilitas pria. Jika seorang pria mengalami gangguan kesuburan, pemeriksaan tetap harus mencakup evaluasi standar seperti analisis semen, riwayat kesehatan reproduksi, faktor hormonal, anatomi saluran reproduksi, gaya hidup, serta kemungkinan infeksi atau penyakit lain.
- Tanda HPV sering kali tidak terlihat. Kutil genital dapat muncul sebagai benjolan kecil pada penis, skrotum, vulva, vagina, sekitar anus, atau area genital lainnya. Kutil dapat muncul satu atau beberapa sekaligus dan dapat bertambah jumlahnya. Sebaliknya, HPV risiko tinggi biasanya tidak menyebabkan kutil. Infeksi ini sering baru diketahui melalui pemeriksaan HPV atau pemeriksaan serviks yang menunjukkan adanya perubahan sel. Karena itu, tidak adanya gejala tidak berarti seseorang pasti bebas dari HPV.
- Pada wanita, komplikasi yang paling penting adalah infeksi HPV risiko tinggi yang menetap. Infeksi persisten dapat menyebabkan perubahan sel serviks, seperti cervical intraepithelial neoplasia atau CIN, yang dapat berkembang menjadi kanker serviks apabila tidak ditemukan dan ditangani. Namun, tidak semua infeksi HPV berkembang menjadi kanker. Sebagian besar infeksi dapat menghilang atau menjadi tidak terdeteksi. Skrining serviks membantu menemukan perubahan prakanker sebelum berkembang menjadi kanker invasif.
- Pada pria dan wanita, HPV juga dapat menimbulkan dampak seksual dan psikologis. Kutil genital dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, perdarahan ringan karena iritasi, gangguan hubungan seksual, serta kecemasan mengenai penularan kepada pasangan. Diagnosis HPV juga dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai kesetiaan pasangan atau kesuburan. Padahal, HPV dapat menetap dalam keadaan tidak terdeteksi selama bertahun-tahun sehingga waktu terjadinya infeksi sering tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan saat HPV ditemukan.
- Vaksin HPV tidak menyebabkan infertilitas. Data keamanan vaksin HPV secara keseluruhan tidak menunjukkan bahwa vaksin menurunkan kesuburan. Vaksin bekerja dengan mencegah infeksi HPV tipe tertentu sebelum seseorang terpapar virus. Vaksin tidak mengobati infeksi HPV yang sudah terjadi dan tidak menggantikan skrining serviks. Karena efektivitas pencegahan paling tinggi bila diberikan sebelum paparan HPV, vaksinasi dianjurkan sejak usia remaja.
- Jadwal vaksin HPV bergantung pada usia saat dosis pertama diberikan dan kondisi kesehatan seseorang. Secara umum, vaksinasi rutin dapat dimulai pada usia 9 sampai 14 tahun dan diberikan dalam 2 dosis dengan jarak sekitar 6 sampai 12 bulan. Jika vaksinasi dimulai pada usia 15 tahun atau lebih, umumnya diberikan 3 dosis pada bulan ke-0, bulan ke-1 atau ke-2, dan bulan ke-6, sesuai jenis vaksin dan pedoman yang digunakan. Individu dengan kondisi imunokompromais dapat memerlukan jadwal 3 dosis meskipun vaksinasi dimulai pada usia yang lebih muda. Vaksinasi pada usia dewasa masih dapat memberikan manfaat pada kelompok tertentu yang belum mendapatkan vaksin sebelumnya, sesuai rekomendasi nasional dan pertimbangan klinis.
- Efek samping vaksin HPV umumnya ringan dan berlangsung singkat. Keluhan yang paling sering meliputi nyeri, kemerahan, atau bengkak pada lokasi suntikan, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, mual, atau demam ringan. Sebagian orang dapat mengalami pusing atau pingsan setelah vaksinasi, terutama pada remaja, sehingga dianjurkan tetap duduk atau berbaring dan diobservasi sekitar 15 menit setelah vaksinasi. Reaksi alergi berat sangat jarang. Secara keseluruhan, profil keamanan vaksin HPV telah dipantau secara luas dan manfaat pencegahan penyakit terkait HPV jauh lebih besar dibandingkan risiko efek samping serius.
- Pasangan yang memiliki HPV dan sedang merencanakan kehamilan tidak perlu langsung menganggap dirinya infertil. Evaluasi harus melihat kondisi kedua pasangan secara menyeluruh. Pada wanita, skrining serviks harus dilakukan sesuai usia, riwayat pemeriksaan, dan hasil sebelumnya. Jika terdapat lesi serviks, dokter akan menentukan apakah diperlukan pemantauan atau tindakan. Pada pria dengan masalah kesuburan, analisis semen menjadi salah satu pemeriksaan awal. Evaluasi infertilitas umumnya dipertimbangkan setelah 12 bulan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi, atau setelah 6 bulan jika wanita berusia 35 tahun atau lebih.
Tabel tanda, dampak, dan komplikasi:
| Kondisi | Tanda atau temuan | Dampak terhadap reproduksi | Komplikasi yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|---|
| HPV tanpa gejala | Tidak ada keluhan | Umumnya tidak terbukti menyebabkan infertilitas langsung | Infeksi persisten dapat menyebabkan lesi prakanker |
| Kutil genital | Benjolan pada penis, skrotum, vulva, vagina, atau sekitar anus | Umumnya tidak menyebabkan infertilitas langsung | Kutil berulang, iritasi, gangguan seksual, dan dampak psikologis |
| HPV risiko tinggi | Biasanya tanpa gejala | Umumnya tidak langsung menyebabkan infertilitas | CIN dan kanker terkait HPV |
| Infeksi HPV persisten | HPV tetap terdeteksi atau perubahan sel ditemukan pada pemeriksaan berulang | Dapat menyebabkan kebutuhan pemantauan atau terapi serviks | Lesi prakanker dan kanker |
| Lesi serviks yang memerlukan LEEP atau eksisi | Hasil skrining serviks abnormal | Dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan pada sebagian pasien | Persalinan prematur, terutama setelah eksisi yang lebih luas |
| HPV pada semen | Biasanya tanpa gejala | Sejumlah penelitian menemukan hubungan dengan perubahan motilitas atau kualitas sperma | Kemungkinan gangguan reproduksi, tetapi bukti belum konsisten |
| HPV saat hamil | Sering tanpa gejala | Sebagian besar kehamilan tetap dapat berlangsung | Risiko terutama berkaitan dengan lesi serviks dan riwayat tindakan serviks |
| Tidak mendapatkan vaksin HPV | Tidak ada tanda khusus | Risiko mengalami infeksi HPV lebih tinggi | Risiko lesi prakanker dan kanker terkait HPV lebih tinggi |
| Setelah vaksin HPV | Nyeri atau bengkak pada lokasi suntikan, demam ringan, sakit kepala | Tidak terbukti menurunkan kesuburan | Reaksi alergi berat sangat jarang |












Leave a Reply