Invaginasi Usus pada Anak: Kegawatdaruratan Bedah dengan Insidensi Tertinggi pada Usia 6 Bulan hingga 3 Tahun
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Invaginasi usus (intussusception) merupakan penyebab tersering obstruksi usus akut pada bayi dan anak usia dini serta termasuk kegawatdaruratan bedah yang memerlukan diagnosis dan tata laksana segera. Kondisi ini terjadi ketika satu segmen usus masuk ke dalam segmen usus di depannya sehingga menyebabkan sumbatan lumen, gangguan aliran vena dan limfe, edema dinding usus, hingga iskemia, nekrosis, perforasi, dan peritonitis apabila tidak segera ditangani. Sekitar 60 hingga 80% kasus terjadi pada usia 6 bulan hingga 3 tahun dengan puncak insidensi antara usia 5 hingga 9 bulan. Manifestasi klinis klasik berupa nyeri perut kolik hilang timbul, muntah, tinja bercampur darah menyerupai “red currant jelly”, dan massa abdomen hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien sehingga diagnosis memerlukan kewaspadaan klinis yang tinggi. Ultrasonografi merupakan modalitas diagnostik pilihan dengan sensitivitas dan spesifisitas lebih dari 95%. Reduksi menggunakan enema udara atau enema kontras menjadi terapi utama pada pasien tanpa perforasi, sedangkan pembedahan diindikasikan bila reduksi gagal atau telah terjadi komplikasi. Diagnosis dini sangat menentukan keberhasilan terapi dan menurunkan morbiditas maupun mortalitas.
Invaginasi usus merupakan salah satu penyebab tersering abdomen akut yang memerlukan penanganan segera pada anak. Penyakit ini menjadi penyebab utama obstruksi usus pada bayi dan balita serta merupakan salah satu keadaan gawat darurat paling sering dalam praktik bedah anak. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan gangguan perfusi usus yang berkembang menjadi nekrosis, perforasi, sepsis, hingga kematian.
Sebagian besar kasus bersifat idiopatik dan berhubungan dengan hiperplasia plak Peyer setelah infeksi virus saluran napas atau saluran cerna. Meskipun demikian, pada anak yang lebih besar perlu dipertimbangkan adanya lead point patologis seperti divertikulum Meckel, polip, limfoma, atau duplikasi usus. Kemajuan ultrasonografi dan teknik reduksi nonoperatif telah meningkatkan angka keberhasilan terapi sekaligus mengurangi kebutuhan tindakan pembedahan.
Definisi
Invaginasi usus adalah keadaan ketika segmen usus proksimal (intussusceptum) masuk ke dalam lumen segmen usus distal (intussuscipiens). Proses ini menyebabkan tarikan mesenterium sehingga aliran vena dan limfe terganggu. Bila tidak segera diatasi, tekanan intralumen meningkat dan berlanjut menjadi iskemia, nekrosis, perforasi, serta peritonitis.
Epidemiologi
Invaginasi merupakan penyebab paling sering obstruksi usus pada bayi dan anak usia dini.
Tabel 1. Epidemiologi invaginasi usus
| Parameter | Keterangan |
|---|---|
| Usia tersering | 6 bulan hingga 3 tahun |
| Puncak kejadian | 5 hingga 9 bulan |
| Jenis kelamin | Laki-laki lebih sering dibanding perempuan |
| Lokasi tersering | Ileokolik (lebih dari 80% kasus) |
| Penyebab | Sebagian besar idiopatik |
| Kekambuhan | Sekitar 5 hingga 15% |
Penyebab dan Faktor Risiko
Sekitar 90% kasus pada bayi bersifat idiopatik. Mekanisme yang paling banyak diterima adalah hiperplasia jaringan limfoid usus setelah infeksi virus sehingga menjadi titik awal terjadinya invaginasi.
Penyebab yang dapat menjadi lead point antara lain:
- Divertikulum Meckel
- Polip usus
- Limfoma
- Duplikasi usus
- Henoch-Schönlein purpura
- Fibrosis kistik
- Tumor usus
- Hematoma intramural
Tabel 2. Faktor risiko invaginasi usus
| Faktor | Mekanisme |
|---|---|
| Infeksi virus | Hiperplasia plak Peyer |
| Usia 6 bulan hingga 3 tahun | Puncak perkembangan jaringan limfoid |
| Divertikulum Meckel | Lead point anatomis |
| Polip | Menjadi titik tarikan usus |
| Limfoma | Massa intralumen |
| Riwayat invaginasi | Risiko kekambuhan meningkat |
Patofisiologi
Invaginasi dimulai ketika sebagian usus terdorong masuk ke segmen usus di depannya. Mesenterium ikut tertarik sehingga aliran vena mengalami hambatan. Akibatnya timbul edema dinding usus yang semakin memperberat sumbatan. Bila proses berlanjut, aliran arteri ikut terganggu sehingga terjadi iskemia, nekrosis, perforasi, dan akhirnya peritonitis.
Manifestasi Klinis
Gejala klasik tidak selalu ditemukan sehingga diagnosis memerlukan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pencitraan.
Tabel 3. Manifestasi klinis
| Gejala | Keterangan |
|---|---|
| Nyeri perut kolik | Hilang timbul setiap beberapa menit |
| Menangis mendadak | Anak menarik kedua kaki ke arah perut |
| Muntah | Awalnya isi lambung, kemudian dapat menjadi biliosa |
| Lesu | Dapat menjadi gejala awal |
| Tinja darah seperti jelly merah | Muncul pada stadium lanjut |
| Massa abdomen | Berbentuk lonjong, biasanya di kuadran kanan atas |
| Distensi abdomen | Menandakan obstruksi berat |
| Demam | Mengarah pada komplikasi |
Trias klasik berupa nyeri kolik, massa abdomen, dan tinja berdarah hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien.
Pemeriksaan Diagnosis
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan pilihan pertama karena akurasinya sangat tinggi dan tidak menggunakan radiasi.
Tabel 4. Pemeriksaan diagnostik
| Pemeriksaan | Temuan |
|---|---|
| Ultrasonografi | Tanda target sign atau doughnut sign |
| Foto polos abdomen | Obstruksi usus, perforasi |
| Enema kontras | Diagnosis sekaligus terapi |
| CT scan | Jarang diperlukan pada anak |
| Laboratorium | Leukositosis, gangguan elektrolit bila berat |
Ultrasonografi memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih dari 95% bila dilakukan oleh operator berpengalaman sehingga menjadi modalitas pencitraan utama.
Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah mengembalikan posisi usus, memperbaiki perfusi, dan mencegah nekrosis maupun perforasi.
Tabel 5. Tata laksana invaginasi
| Tahapan | Penatalaksanaan |
|---|---|
| Resusitasi | Cairan intravena, koreksi elektrolit, pemasangan selang lambung bila diperlukan |
| Reduksi nonoperatif | Enema udara atau enema kontras dengan panduan fluoroskopi atau USG |
| Operasi | Bila reduksi gagal, perforasi, peritonitis, atau ditemukan lead point patologis |
| Antibiotik | Pada pasien dengan dugaan perforasi atau sepsis |
| Observasi | Memantau kekambuhan dalam 24 hingga 48 jam |
Keberhasilan reduksi nonoperatif mencapai sekitar 80 hingga 90% bila dilakukan sebelum terjadi perforasi.
Komplikasi
Komplikasi terutama terjadi akibat keterlambatan diagnosis atau kegagalan terapi.
Tabel 6. Komplikasi invaginasi usus
| Komplikasi | Dampak |
|---|---|
| Nekrosis usus | Memerlukan reseksi usus |
| Perforasi | Peritonitis |
| Sepsis | Syok septik |
| Obstruksi persisten | Gangguan nutrisi |
| Kekambuhan | Terjadi pada sebagian pasien |
Prognosis
Prognosis sangat bergantung pada waktu diagnosis. Pasien yang mendapatkan terapi dalam 24 jam pertama umumnya memiliki angka keberhasilan reduksi tinggi dan prognosis sangat baik. Sebaliknya, keterlambatan lebih dari 24 hingga 48 jam meningkatkan risiko nekrosis usus, kebutuhan reseksi usus, lama rawat inap, serta mortalitas.
Kesimpulan
Invaginasi usus merupakan penyebab tersering obstruksi usus akut pada bayi dan anak usia 6 bulan hingga 3 tahun serta termasuk kegawatdaruratan bedah yang membutuhkan diagnosis dan terapi segera. Manifestasi klinis yang tidak selalu khas menyebabkan kewaspadaan klinis sangat penting, terutama pada bayi dengan nyeri perut kolik berulang, muntah, dan episode menangis mendadak. Ultrasonografi merupakan modalitas diagnostik pilihan, sedangkan reduksi menggunakan enema udara atau enema kontras menjadi terapi utama pada sebagian besar pasien. Diagnosis dan penanganan dini berperan penting dalam mencegah nekrosis usus, perforasi, serta menurunkan morbiditas dan mortalitas.












Leave a Reply