REVIEW JURNAL TERKINI : Feeding Problems pada Masa Bayi Berhubungan dengan Kualitas Pola Makan hingga Usia Sekolah
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Abstrak
Masalah makan pada bayi dan balita merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktik pediatri. Selama ini, banyak orang tua maupun tenaga kesehatan menganggap kondisi tersebut sebagai fase perkembangan yang akan membaik dengan bertambahnya usia. Namun, penelitian kohort prospektif terbaru yang diterbitkan dalam Nutrition Journal tahun 2026 menunjukkan bahwa masalah makan pada usia 18 hingga 24 bulan berhubungan dengan kualitas pola makan yang lebih rendah hingga usia 9 tahun. Penelitian ini melibatkan 4.989 anak yang diikuti sejak lahir dan menunjukkan bahwa perilaku makan pada awal kehidupan memiliki pengaruh jangka panjang terhadap kebiasaan konsumsi makanan sehat. Tinjauan ini membahas desain penelitian, hasil utama, mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan tersebut, implikasi klinis, serta relevansinya terhadap praktik pediatri.
Kata kunci: feeding problems, feeding difficulties, diet quality, picky eater, Pediatric Feeding Disorder, nutrisi anak, kohort prospektif.
Pendahuluan
Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis dalam pembentukan perilaku makan. Pada fase ini terjadi perkembangan kemampuan oral-motor, koordinasi menelan, pematangan sistem pencernaan, perkembangan sensorik terhadap rasa dan tekstur makanan, serta pembentukan preferensi makanan yang akan menetap hingga masa kanak-kanak. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengalaman makan pada awal kehidupan dapat memengaruhi kebiasaan makan jangka panjang, namun bukti prospektif dengan masa tindak lanjut yang panjang masih terbatas.
Penelitian yang dilakukan Jankowski dan kolega memberikan bukti baru bahwa masalah makan pada masa bayi bukan sekadar masalah sementara. Anak yang sering menolak makanan, menangis saat makan, atau mengalami kesulitan makan pada usia 18 hingga 24 bulan ternyata memiliki kualitas pola makan yang lebih buruk hingga usia sekolah. Temuan ini memperkuat konsep bahwa intervensi dini terhadap feeding problems berpotensi memberikan manfaat kesehatan dalam jangka panjang.
Identitas Penelitian
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Judul | Feeding problems in infancy and diet quality in later childhood: a prospective cohort study |
| Jurnal | Nutrition Journal |
| Tahun | 2026 |
| Penulis | Emma Jankowski, Diane L. Putnick, Akghar Ghassabian, Priscilla K. Clayton, Tzu-Chun Lin, Edwina H. Yeung |
| Desain | Prospective birth cohort study |
| Jumlah peserta | 4.989 anak |
| Lama observasi | 18 bulan hingga 9 tahun |
| Lokasi | New York State, Amerika Serikat |
Latar Belakang Penelitian
- Masalah makan pada bayi meliputi berbagai perilaku seperti menolak makan, menangis saat makan, makan dalam waktu sangat lama, menolak makanan baru, atau hanya menerima makanan tertentu. Kondisi tersebut ditemukan pada sekitar 20 hingga 35% anak sehat dan lebih tinggi pada anak dengan gangguan perkembangan atau penyakit kronis.
- Walaupun feeding problems diketahui berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan stres keluarga, belum banyak penelitian yang mengevaluasi dampaknya terhadap kualitas pola makan hingga usia sekolah. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan tersebut menggunakan desain kohort prospektif sehingga hubungan temporal dapat dinilai dengan lebih baik.
Metode Penelitian
- Penelitian menggunakan data dari kohort kelahiran yang berlangsung antara tahun 2008 hingga 2010. Orang tua mengisi kuesioner mengenai perilaku makan anak pada usia 18 dan 24 bulan. Kuesioner tersebut telah divalidasi sebelumnya dan mencakup berbagai perilaku seperti penolakan makan, kesulitan makan, menangis atau berteriak saat makan, serta distress selama proses makan.
- Kualitas pola makan dievaluasi pada usia 30 bulan, 36 bulan, 7 tahun, dan 9 tahun menggunakan Youth Healthy Eating Index (YHEI). Indeks ini menilai kepatuhan terhadap pola makan sehat berdasarkan konsumsi buah, sayuran, serealia utuh, protein sehat, minuman berpemanis, makanan olahan, dan komponen gizi lainnya. Analisis statistik menggunakan mixed effects models dengan penyesuaian terhadap berbagai faktor perancu, termasuk pendidikan orang tua, usia kehamilan saat lahir, lama pemberian ASI, dan karakteristik kesehatan anak.
Hasil Penelitian
Anak yang memiliki skor feeding problems lebih tinggi pada usia 18 maupun 24 bulan menunjukkan skor YHEI yang lebih rendah pada seluruh periode pengamatan. Hubungan tersebut tetap bermakna setelah penyesuaian terhadap faktor sosiodemografi dan kesehatan.
Ringkasan hasil utama
| Usia penilaian feeding problems | Outcome | Hasil |
|---|---|---|
| 18 bulan | Kualitas diet usia 30 sampai 36 bulan | Menurun bermakna |
| 24 bulan | Kualitas diet usia 30 sampai 36 bulan | Menurun lebih besar |
| 18 bulan | Kualitas diet usia 7 sampai 9 tahun | Tetap lebih rendah |
| 24 bulan | Kualitas diet usia 7 sampai 9 tahun | Tetap lebih rendah |
Secara statistik diperoleh:
| Feeding problems | Outcome | Koefisien |
|---|---|---|
| 18 bulan | YHEI usia 30 sampai 36 bulan | B = -1,10 |
| 24 bulan | YHEI usia 30 sampai 36 bulan | B = -1,56 |
| 18 bulan | YHEI usia 7 sampai 9 tahun | B = -1,30 |
| 24 bulan | YHEI usia 7 sampai 9 tahun | B = -1,65 |
Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin berat masalah makan pada masa bayi, semakin rendah kualitas pola makan anak pada masa berikutnya.
Interpretasi Ilmiah
Penelitian ini menunjukkan bahwa feeding problems bukan hanya memengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga membentuk pola preferensi makanan dalam jangka panjang. Anak yang sering menolak makanan cenderung memiliki variasi makanan yang lebih sedikit sehingga asupan buah, sayuran, protein berkualitas, dan serealia utuh menjadi lebih rendah.
Secara biologis, kondisi ini dapat dijelaskan melalui proses pembentukan preferensi rasa pada awal kehidupan. Paparan berulang terhadap berbagai jenis makanan pada usia dini membantu perkembangan penerimaan terhadap rasa dan tekstur baru. Sebaliknya, anak yang terus-menerus menghindari makanan tertentu akan memiliki repertoar makanan yang semakin sempit sehingga kualitas diet tetap rendah hingga usia sekolah.
Selain faktor perilaku, feeding problems juga dapat menjadi manifestasi penyakit yang mendasari, seperti Pediatric Feeding Disorder (PFD), gangguan oral-sensorik, gangguan perkembangan saraf, gangguan motilitas saluran cerna, refluks gastroesofageal, maupun alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE. Pada kelompok ini, mengatasi penyebab dasar sangat penting karena intervensi perilaku saja sering kali tidak memberikan hasil optimal.
Implikasi Klinis
Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi praktik klinis. Masalah makan yang menetap pada usia balita tidak sebaiknya dianggap sebagai fase normal tanpa evaluasi lebih lanjut. Identifikasi dini memungkinkan tenaga kesehatan melakukan intervensi sebelum pola makan yang kurang sehat menetap hingga usia sekolah.
Pendekatan evaluasi perlu bersifat komprehensif, meliputi penilaian status gizi, pertumbuhan, perilaku makan, kemampuan oral-motor, kondisi psikososial keluarga, serta kemungkinan adanya penyakit organik. Pada anak dengan gejala saluran cerna kronis, pertumbuhan yang kurang optimal, atau gejala multisistem, perlu dipertimbangkan kemungkinan alergi makanan non-IgE, terutama bila pemeriksaan IgE spesifik memberikan hasil negatif tetapi gambaran klinis tetap mendukung.
Kekuatan Penelitian
| Aspek | Nilai |
|---|---|
| Desain prospektif | Sangat baik |
| Jumlah sampel | Sangat besar |
| Lama tindak lanjut | Hingga 9 tahun |
| Penyesuaian faktor perancu | Komprehensif |
| Instrumen feeding problems | Telah divalidasi |
| Pengukuran kualitas diet | Menggunakan YHEI |
Keterbatasan Penelitian
Penilaian perilaku makan dan konsumsi makanan didasarkan pada laporan orang tua sehingga masih terdapat kemungkinan bias pelaporan. Penelitian juga tidak mengevaluasi penyebab medis dari feeding problems sehingga tidak dapat membedakan apakah masalah makan disebabkan oleh faktor perilaku, gangguan perkembangan, atau penyakit organik seperti alergi makanan. Selain itu, karena seluruh peserta berasal dari satu kohort di Amerika Serikat, hasil penelitian perlu dikonfirmasi pada populasi dengan latar belakang budaya dan pola makan yang berbeda.
Kesimpulan
Penelitian kohort prospektif ini memberikan bukti kuat bahwa masalah makan pada usia 18 hingga 24 bulan berhubungan dengan kualitas pola makan yang lebih rendah hingga usia 9 tahun. Hubungan tersebut tetap konsisten setelah memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi pola makan anak. Temuan ini menegaskan bahwa feeding problems merupakan masalah kesehatan yang memiliki konsekuensi jangka panjang dan memerlukan deteksi serta penanganan sejak dini.
Bagi dokter, hasil penelitian ini mendukung perlunya evaluasi menyeluruh terhadap anak dengan feeding problems, bukan hanya untuk memperbaiki asupan saat ini, tetapi juga untuk mencegah terbentuknya pola makan yang kurang sehat pada masa depan. Bagi orang tua, penelitian ini menjadi pengingat bahwa anak yang terus-menerus sulit makan selama berbulan-bulan sebaiknya tidak hanya ditunggu hingga “nanti juga mau makan sendiri”, melainkan perlu dievaluasi agar penyebab yang mendasarinya dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.
Referensi
- Jankowski E, Putnick DL, Ghassabian A, Clayton PK, Lin TC, Yeung EH. Feeding problems in infancy and diet quality in later childhood: a prospective cohort study. Nutr J. 2026. doi:10.1186/s12937-026-01311-z.












Leave a Reply