Preeklamsia Berat dan Eklamsia: Tinjauan Ilmiah Berbasis Bukti Menurut Pedoman WHO, ACOG, RCOG, dan FIGO
Preeklamsia berat dan eklamsia merupakan salah satu kegawatdaruratan obstetri yang menjadi penyebab utama kematian ibu dan bayi di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai oleh hipertensi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu disertai kerusakan organ maternal, dan pada eklamsia berkembang menjadi kejang yang tidak disebabkan oleh gangguan neurologis lain. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan hipertensi dalam kehamilan menyumbang sekitar 10–15% kematian maternal secara global. Selain meningkatkan risiko kematian ibu, kondisi ini juga menyebabkan kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin, solusio plasenta, hingga kematian janin.
Perkembangan penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa preeklamsia merupakan penyakit multisistem yang berasal dari gangguan pembentukan plasenta pada awal kehamilan, diikuti disfungsi endotel sistemik, inflamasi, stres oksidatif, dan gangguan angiogenesis. Penatalaksanaan terkini berdasarkan pedoman WHO, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), serta International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) menekankan deteksi dini, pemberian magnesium sulfat untuk pencegahan dan terapi kejang, pengendalian tekanan darah, serta terminasi kehamilan pada waktu yang tepat sebagai terapi definitif.
Pendahuluan
Gangguan hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu komplikasi obstetri yang paling sering dijumpai dan memiliki dampak besar terhadap kesehatan ibu maupun janin. Di antara berbagai bentuk hipertensi gestasional, preeklamsia berat dan eklamsia merupakan bentuk paling serius karena dapat berkembang secara cepat menjadi kegagalan multiorgan, stroke, edema paru, gangguan ginjal akut, gangguan fungsi hati, disseminated intravascular coagulation (DIC), hingga kematian maternal. Selain itu, insufisiensi plasenta yang menyertai penyakit ini meningkatkan risiko restriksi pertumbuhan janin, hipoksia intrauterin, prematuritas, dan kematian perinatal.
Kemajuan ilmu kedokteran telah meningkatkan pemahaman mengenai patogenesis preeklamsia sebagai penyakit yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, imunologi, angiogenesis, dan disfungsi vaskular. Berbagai pedoman internasional terbaru telah mengembangkan strategi pencegahan, skrining risiko tinggi, penggunaan aspirin dosis rendah, terapi magnesium sulfat, antihipertensi yang aman pada kehamilan, serta pemantauan intensif ibu dan janin. Pendekatan berbasis bukti ini terbukti mampu menurunkan angka komplikasi berat dan kematian maternal secara bermakna.
Definisi
Preeklamsia adalah hipertensi baru yang muncul setelah usia kehamilan ≥20 minggu, ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg pada dua kali pemeriksaan, disertai proteinuria atau bukti kerusakan organ target. Preeklamsia berat ditandai oleh tekanan darah ≥160/110 mmHg atau adanya disfungsi organ berat seperti trombositopenia, gangguan fungsi hati, edema paru, gangguan ginjal, gejala neurologis, atau gangguan penglihatan.
Eklamsia merupakan komplikasi preeklamsia berupa kejang tonik-klonik umum yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab neurologis lain. Eklamsia dapat terjadi sebelum persalinan, saat persalinan, maupun pada periode postpartum, bahkan hingga beberapa minggu setelah melahirkan.
Epidemiologi
Gangguan hipertensi terjadi pada sekitar 5–10% kehamilan, sedangkan preeklamsia mengenai sekitar 2–8% seluruh kehamilan. WHO memperkirakan lebih dari 70.000 ibu meninggal setiap tahun akibat komplikasi preeklamsia dan eklamsia, dengan sebagian besar terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Di Indonesia, preeklamsia dan eklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu bersama perdarahan postpartum dan infeksi. Selain meningkatkan mortalitas maternal, penyakit ini juga menjadi penyebab utama persalinan prematur, bayi berat lahir rendah, dan kematian neonatal.
Faktor Risiko
Faktor risiko preeklamsia meliputi kehamilan pertama, riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, usia ibu <20 tahun atau >40 tahun, obesitas, hipertensi kronis, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, penyakit autoimun seperti lupus, sindrom antifosfolipid, kehamilan ganda, serta riwayat keluarga dengan preeklamsia.
Faktor lain yang meningkatkan risiko adalah fertilisasi in vitro, interval kehamilan yang panjang, dan indeks massa tubuh yang tinggi. Identifikasi faktor risiko sejak kunjungan antenatal sangat penting untuk menentukan strategi pencegahan menggunakan aspirin dosis rendah dan pemantauan intensif.
Patofisiologi
Patogenesis preeklamsia diawali oleh gangguan invasi trofoblas ke arteri spiralis uterus pada trimester pertama sehingga pembuluh darah gagal mengalami remodeling fisiologis. Akibatnya, perfusi plasenta menjadi tidak adekuat sehingga terjadi hipoksia plasenta kronis.
Plasenta yang mengalami hipoksia melepaskan berbagai mediator antiangiogenik seperti soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1) dan soluble endoglin yang menyebabkan disfungsi endotel sistemik. Keadaan ini memicu vasokonstriksi, peningkatan permeabilitas kapiler, aktivasi trombosit, inflamasi, stres oksidatif, dan gangguan koagulasi sehingga muncul hipertensi, proteinuria, edema, dan kerusakan multiorgan.
Manifestasi Klinis
Manifestasi awal dapat berupa hipertensi dan edema, tetapi pada preeklamsia berat sering ditemukan sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas abdomen, mual, muntah, sesak napas akibat edema paru, oliguria, serta penurunan kesadaran.
Pada eklamsia, gejala tersebut diikuti kejang tonik-klonik umum yang dapat berulang, bahkan berkembang menjadi koma. Komplikasi berat meliputi stroke hemoragik, perdarahan otak, gagal ginjal akut, sindrom HELLP, DIC, edema paru, dan solusio plasenta.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hipertensi setelah usia kehamilan 20 minggu disertai proteinuria ≥300 mg/24 jam atau rasio protein/kreatinin ≥0,3. Bila proteinuria tidak ditemukan, diagnosis tetap dapat ditegakkan apabila terdapat disfungsi organ target seperti trombositopenia, peningkatan enzim hati, gangguan ginjal, edema paru, atau gejala neurologis.
Pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap, fungsi ginjal, elektrolit, AST, ALT, LDH, bilirubin, urinalisis, protein urin, koagulasi, dan pemeriksaan janin berupa ultrasonografi, Doppler arteri umbilikalis, serta cardiotocography sesuai indikasi.
Penatalaksanaan Terkini Berbasis Bukti (WHO, ACOG, RCOG, FIGO)
Tujuan utama terapi adalah menyelamatkan ibu sambil mempertimbangkan keselamatan janin. Pada preeklamsia berat, pasien harus dirawat di rumah sakit dengan pemantauan maternal dan janin secara ketat.
Magnesium sulfat merupakan terapi pilihan untuk pencegahan dan pengobatan kejang eklamsia. WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG merekomendasikan magnesium sulfat sebagai standar emas karena terbukti menurunkan kejadian kejang dan kematian maternal dibandingkan diazepam maupun fenitoin.
Hipertensi berat (≥160/110 mmHg) harus segera diturunkan menggunakan antihipertensi intravena seperti labetalol atau hidralazin, atau nifedipin oral kerja cepat bila akses intravena belum tersedia. Target tekanan darah adalah sekitar 140–150/90–100 mmHg untuk mencegah stroke tanpa mengurangi perfusi plasenta secara berlebihan.
Satu-satunya terapi definitif adalah terminasi kehamilan. Bila usia kehamilan ≥34 minggu atau terdapat kondisi maternal maupun janin yang memburuk, persalinan harus segera dilakukan setelah kondisi ibu stabil. Pada usia kehamilan yang lebih muda, keputusan dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko.
Prognosis
Dengan diagnosis dini dan tata laksana sesuai pedoman internasional, angka kesintasan ibu sangat tinggi. Sebagian besar pasien mengalami perbaikan dalam beberapa hari setelah persalinan karena plasenta sebagai sumber utama penyakit telah dikeluarkan.
Namun, wanita yang pernah mengalami preeklamsia memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi kronik, penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal kronik, dan kekambuhan preeklamsia pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu diperlukan tindak lanjut jangka panjang.
Pencegahan
WHO dan FIGO merekomendasikan aspirin dosis rendah (75–150 mg/hari) dimulai pada usia kehamilan 12–16 minggu hingga sekitar 36 minggu pada wanita berisiko tinggi. Suplementasi kalsium 1,5–2 gram per hari dianjurkan pada populasi dengan asupan kalsium rendah.
Pencegahan juga meliputi kontrol berat badan sebelum kehamilan, pengendalian hipertensi kronik dan diabetes, pemeriksaan antenatal rutin, edukasi mengenai tanda bahaya preeklamsia, serta rujukan dini bila muncul hipertensi atau gejala neurologis.
Ringkasan Poin Penting
- Preeklamsia merupakan gangguan hipertensi multisistem setelah usia kehamilan ≥20 minggu.
- Eklamsia adalah kejang akibat preeklamsia dan merupakan kegawatdaruratan obstetri.
- Gangguan berasal dari kelainan pembentukan plasenta dan disfungsi endotel sistemik.
- Magnesium sulfat adalah terapi pilihan untuk mencegah dan mengobati kejang.
- Hipertensi berat harus segera dikendalikan dengan antihipertensi yang direkomendasikan.
- Terminasi kehamilan merupakan terapi definitif.
- Aspirin dosis rendah efektif mencegah preeklamsia pada kelompok risiko tinggi.
- Deteksi dini melalui pelayanan antenatal sangat penting menurunkan kematian ibu dan bayi.
- Pemantauan postpartum tetap diperlukan karena eklamsia dapat muncul setelah persalinan.
- Tindak lanjut jangka panjang diperlukan karena risiko penyakit kardiovaskular meningkat setelah preeklamsia.
Daftar Pustaka
- World Health Organization (WHO). WHO Recommendations for Prevention and Treatment of Pre-eclampsia and Eclampsia. Geneva: WHO. Tersedia di: https://www.who.int/publications
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 222: Gestational Hypertension and Preeclampsia. Obstetrics & Gynecology. 2020;135(6):e237–e260.
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. The Management of Severe Pre-eclampsia/Eclampsia (Green-top Guideline). Tersedia di: https://www.rcog.org.uk
- International Federation of Gynecology and Obstetrics. FIGO Initiative on Pre-eclampsia: Practical Guide for First-Trimester Screening and Prevention. International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2019;145(Suppl 1):1–33.















Leave a Reply