Plasenta Previa dengan Perdarahan: Tinjauan Ilmiah Berbasis Bukti Menurut Pedoman WHO, ACOG, RCOG, dan FIGO
Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum dan termasuk kegawatdaruratan obstetri yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Kondisi ini ditandai oleh implantasi plasenta pada segmen bawah uterus sehingga sebagian atau seluruh ostium uteri internum tertutupi. Manifestasi klinis khas berupa perdarahan pervaginam berwarna merah segar tanpa nyeri setelah usia kehamilan 20 minggu. Perdarahan dapat berulang, semakin berat seiring bertambahnya usia kehamilan, dan berpotensi menyebabkan syok hipovolemik, kebutuhan transfusi darah masif, kelahiran prematur, hingga kematian maternal dan perinatal apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Kemajuan ultrasonografi transvaginal, sistem transfusi darah, serta pelayanan obstetri emergensi telah meningkatkan keberhasilan tata laksana plasenta previa. Pedoman terbaru dari World Health Organization (WHO), American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), dan International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) menekankan diagnosis dini, stabilisasi maternal, pemantauan kondisi janin, serta waktu persalinan yang tepat untuk mengurangi komplikasi. Artikel ini membahas definisi, epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan terkini berbasis bukti, prognosis, pencegahan, dan ringkasan poin penting mengenai plasenta previa dengan perdarahan.
Pendahuluan
Perdarahan antepartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia. Dua penyebab tersering adalah plasenta previa dan solusio plasenta, yang memiliki karakteristik klinis dan tata laksana berbeda. Plasenta previa ditandai oleh perdarahan merah segar tanpa nyeri akibat implantasi plasenta pada segmen bawah uterus, sedangkan solusio plasenta umumnya disertai nyeri abdomen hebat dan uterus yang tegang. Identifikasi yang tepat sangat penting karena kesalahan diagnosis dapat meningkatkan risiko komplikasi maternal maupun fetal.
Perkembangan pelayanan obstetri modern memungkinkan diagnosis lebih dini melalui ultrasonografi transvaginal yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Penatalaksanaan saat ini tidak hanya berfokus pada penghentian perdarahan, tetapi juga mempertimbangkan usia kehamilan, stabilitas hemodinamik ibu, kesejahteraan janin, kesiapan neonatal, serta pencegahan komplikasi seperti perdarahan masif, plasenta akreta, dan histerektomi. Pendekatan multidisiplin menjadi standar pelayanan pada pusat obstetri modern.
Definisi
Plasenta previa adalah keadaan ketika plasenta berimplantasi pada segmen bawah uterus sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Berdasarkan klasifikasi terbaru, plasenta previa dibedakan menjadi placenta previa (menutupi ostium internum) dan low-lying placenta, yaitu tepi plasenta berada kurang dari 20 mm dari ostium internum pada trimester ketiga.
Perdarahan terjadi akibat peregangan segmen bawah uterus menjelang persalinan yang menyebabkan robekan pembuluh darah plasenta. Karena sumber perdarahan berasal dari sirkulasi maternal, kehilangan darah dapat berlangsung cepat dan berulang.
Epidemiologi
Plasenta previa terjadi pada sekitar 0,3–0,5% seluruh kehamilan. Insidens meningkat seiring meningkatnya angka seksio sesarea, usia ibu yang lebih tua, dan penggunaan teknologi reproduksi berbantu.
Sekitar 5–10% perdarahan antepartum disebabkan oleh plasenta previa. Risiko morbiditas maternal meningkat akibat perdarahan masif, transfusi darah, histerektomi, serta plasenta akreta spektrum, sedangkan bayi berisiko mengalami prematuritas, berat badan lahir rendah, hipoksia, dan kematian neonatal.
Faktor Risiko
Faktor risiko utama meliputi riwayat seksio sesarea, operasi uterus sebelumnya (miomektomi atau kuretase berulang), usia ibu di atas 35 tahun, multiparitas, kehamilan ganda, fertilisasi in vitro (IVF), merokok, serta riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
Semakin banyak bekas luka pada uterus, semakin tinggi risiko implantasi abnormal plasenta. Selain itu, plasenta previa sering berhubungan dengan Placenta Accreta Spectrum (PAS) yang meningkatkan risiko perdarahan hebat saat persalinan.
Patofisiologi
Pada plasenta previa, implantasi plasenta terjadi di segmen bawah uterus yang mengalami peregangan progresif pada trimester ketiga. Peregangan ini menyebabkan sebagian plasenta terlepas dari tempat implantasinya sehingga pembuluh darah maternal robek dan terjadi perdarahan.
Karena plasenta tetap melekat sebagian, perdarahan sering berhenti sementara tetapi mudah berulang dengan intensitas yang semakin berat. Bila disertai plasenta akreta, pelepasan plasenta setelah persalinan menjadi sulit sehingga meningkatkan risiko perdarahan postpartum masif.
Manifestasi Klinis
Gejala klasik adalah perdarahan pervaginam merah segar, tanpa nyeri, yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, terutama pada trimester ketiga. Perdarahan sering terjadi saat istirahat atau tidur, dapat berhenti spontan, tetapi berulang dengan jumlah yang semakin banyak.
Pada pemeriksaan abdomen biasanya uterus lunak dan tidak nyeri. Presentasi janin abnormal seperti letak lintang atau sungsang lebih sering ditemukan karena plasenta menghalangi bagian bawah rahim. Denyut jantung janin dapat tetap normal bila perdarahan belum berat.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi dengan ultrasonografi transabdominal serta transvaginal, yang merupakan baku emas untuk menentukan lokasi plasenta. Pemeriksaan vaginal digital dikontraindikasikan sebelum lokasi plasenta dipastikan karena dapat memicu perdarahan hebat.
Pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap, golongan darah, uji silang darah (crossmatch), pemeriksaan koagulasi, dan evaluasi kondisi janin melalui kardiotokografi (CTG) bila usia kehamilan telah viabel.
Penatalaksanaan Terkini Berbasis Bukti (WHO, ACOG, RCOG, FIGO)
- Penatalaksanaan bergantung pada jumlah perdarahan, usia kehamilan, kondisi ibu, dan keadaan janin. Pada perdarahan ringan dengan ibu stabil dan kehamilan belum cukup bulan, dilakukan terapi ekspektatif berupa rawat inap atau rawat jalan terpilih, observasi ketat, istirahat relatif, pemberian kortikosteroid antenatal pada usia kehamilan 24–34 minggu, koreksi anemia, dan persiapan transfusi bila diperlukan.
- Pada perdarahan aktif yang berat, ketidakstabilan hemodinamik, atau adanya gawat janin, dilakukan resusitasi segera menggunakan prinsip Airway, Breathing, Circulation (ABC), pemasangan dua jalur intravena besar, transfusi darah sesuai kebutuhan, serta terminasi kehamilan. Seksio sesarea merupakan metode persalinan pilihan pada plasenta previa mayor. Penanganan sebaiknya dilakukan oleh tim multidisiplin yang melibatkan obstetri, anestesi, neonatologi, bank darah, dan bila dicurigai plasenta akreta, ahli bedah pelvis.
Prognosis
Dengan diagnosis dini dan pelayanan obstetri modern, angka keselamatan ibu meningkat secara signifikan. Namun, plasenta previa tetap berkaitan dengan meningkatnya risiko perdarahan postpartum, transfusi darah, histerektomi, infeksi, serta komplikasi akibat plasenta akreta.
Prognosis janin sangat dipengaruhi usia kehamilan saat persalinan. Prematuritas masih menjadi penyebab utama morbiditas neonatal, termasuk gangguan pernapasan, perdarahan intraventrikular, dan kebutuhan perawatan intensif neonatal.
Pencegahan
Tidak semua kasus dapat dicegah, tetapi risiko dapat dikurangi dengan menghindari seksio sesarea yang tidak memiliki indikasi medis, menghentikan kebiasaan merokok, mengoptimalkan pelayanan antenatal, serta melakukan evaluasi lokasi plasenta melalui ultrasonografi rutin trimester kedua dan ketiga.
Wanita dengan riwayat seksio sesarea atau plasenta previa sebelumnya memerlukan pemantauan khusus karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekambuhan maupun plasenta akreta spektrum.
Ringkasan Poin Penting
- Plasenta previa merupakan penyebab utama perdarahan antepartum tanpa nyeri.
- Gejala khas adalah perdarahan merah segar pada trimester kedua akhir atau trimester ketiga.
- Pemeriksaan vaginal digital tidak boleh dilakukan sebelum lokasi plasenta dipastikan dengan USG.
- Ultrasonografi transvaginal merupakan standar emas diagnosis.
- Penatalaksanaan ditentukan oleh stabilitas ibu, jumlah perdarahan, usia kehamilan, dan kondisi janin.
- Seksio sesarea merupakan metode persalinan utama pada plasenta previa mayor.
- Risiko meningkat pada ibu dengan riwayat seksio sesarea, usia lanjut, multiparitas, dan IVF.
- Komplikasi utama meliputi perdarahan masif, plasenta akreta, transfusi darah, histerektomi, serta prematuritas.
- Pelayanan multidisiplin dan kesiapan transfusi darah sangat penting dalam menurunkan mortalitas maternal dan neonatal.
- Pencegahan terutama melalui pengurangan seksio sesarea yang tidak perlu dan pelayanan antenatal berkualitas.
Daftar Pustaka
- World Health Organization (WHO). WHO Recommendations on Maternal and Newborn Care. Tersedia di: https://www.who.int/publications
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Practice Bulletin: Placenta Previa and Placenta Accreta Spectrum. Tersedia di: https://www.acog.org
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Placenta Praevia and Placenta Accreta: Green-top Guideline No. 27a. Tersedia di: https://www.rcog.org.uk
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th Edition. McGraw-Hill Education; 2022. Tersedia melalui: https://accessmedicine.mhmedical.com















Leave a Reply